AKIDAH AKAL DAN WAHYU
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas individu Teologi Islam
Dosen Pembimbing :
Duki,MA
Choirina
12510038
Manajemen
A
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga
kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya
yang berjudul “KEDUDUKAN AKAL DAN WAHYU”.
Makalah ini berisikan tentang
informasi Pengertian Antara Kedudukan Akal Dan Wahyu’ atau yang lebih
khususnya membahas antara akal dan
wahyu. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua
tentang akal dan wahyu.
Kami menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini
dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Aamiin
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kedudukan akal dan wahyu
dalam Islam menempati posisi yang sangat terhormat, melebihi agama-agama lain. Karena Akal
dan wahyu adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, dialah yang memberikan
perbedaan manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang kholiq, akal pun
harus dibina dengan ilmu-ilmu sehingga mnghasilkan budi pekrti yang sangat
mulia yang menjadi dasar sumber kehidupan dan juga tujuan dari baginda
rasulullah SAW. Tidak hanaya itu dengan akal juga manusia bisa menjadi
ciptaan pilihan yang allah amanatkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini,
begitu juga dengan wahyu yang dimana wahyu adalah pemberian allah yang sangat
luar biasa untuk membimbing manusia pada jalan yang lurus.
Namun dalam menggunakan akal terbatas akan
hal-hal bersifat tauhid, karena ketauhitan sang pencipta tak akan terukur dalam
menemukan titik ahir, begitu pula dengan wahyu sang Esa, karena wahyu diberikan
kepada orang-orang terpilih dan semata-mata untuk menunjukkan kebesaran Allah.
Maka dalam menangani anatara wahyu dana akal harus slalu mengingat bahwa semua
itu karna allah semata. Dan tidak akan terjadi jika allah tak mengijinkannya.
Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kemusyrikan terhadap allah karena
kesombongannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan pengertian,
fungsi dan kekuatan akal ?
2. Apa yang di maksud dengan pengertian,
fungsi dan kekuatan wahyu ?
3. Bagaimana kedudukan wahyu dan akal dalam
Islam ?
4. Bagaimana Pendapat Wahyu dan Akal
menurut Aliran-aliran dalam teologi Islam ?
C. Tujuan Penulisan
Makalah
1. Untuk
mempelajari Akal dan Wahyu
2.
Untuk mengetahui kedudukan akal
dan wahyu dalam islam
3.
Untuk mengetahui
pendapat-pendapat aliran teologi islam mengenai akal dan wahyu
BAB II
1.
AKAL
1.1. Pengertian Akal
Kata akal sudah
menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-‘Aql (العـقـل), yang dalam bentuk kata
benda. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya ‘aqaluuh (عـقـلوه) dalam 1 ayat, ta’qiluun
(تعـقـلون)
24 ayat, na’qil (نعـقـل)
1 ayat, ya’qiluha (يعـقـلها)
1 ayat dan ya’qiluun (يعـقـلون)
22 ayat, kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Maka dapat diambil
arti bahwa akal adalah peralatan manusia yang memiliki fungsi untuk membedakan
yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuanya sangat
luas.
Dalam pemahaman Prof.
Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis
(practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan
memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut
pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah.
Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan
berfikir. Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalah: sutu
daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan
manusia dari mahluk lain.
1.2.
Fungsi Akal
Akal banyak memiliki
fungsi dalam kehidupan, antara lain:
1.
Sebagai tolak ukur
akan kebenaran dan kebatilan.
2.
Sebagai alat untuk
menemukan solusi ketika permasalahan datang.
3.
Sebagai alat untuk
mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.
Dan masih banyak lagi
fungsi akal, karena hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam
tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang
akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut.
Dan Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah
sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan
pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan.
Tak seperti wahyu,
kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:
1.
Mengetahui tuhan dan
sifat-sifat-Nya.
2.
Mengetahui adanya
hidup akhirat.
3.
Mengetahui bahwa
kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik,
sedang kesengsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan
jahat.
4.
Mengetahui wajibnya
manusia mengenal tuhan.
5.
Mengetahui wajibnya
manusia berbuat baik dan wajibnya ia mnjauhi perbuatan jahat untuk
kebahagiannya di akhirat.
6.
Membuat hukum-hukum
mengnai kwajiban-kwajiban itu.
2.
WAHYU
2.1. Pengertian Wahyu
Kata wahyu
berasal dari kata arab الوحي,
dan al-wahy adalah kata asli Arab dan bukan pinjaman dari bahasa asing, yang
berarti suara, api, dan kecepatan. Dan ketika Al-Wahyu berbentuk
masdar memiliki dua arti yaitu tersembunyi dan cepat. oleh sebab itu wahyu
sering disebut sebuah pemberitahuan tersembunyi dan cepat kepada seseorang yang
terpilih tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Sedangkan ketika berbentuk maf’ul
wahyu Allah terhada Nabi-NabiNYA ini sering disebut Kalam Allah yang diberikan kepada
Nabi.
Menurut Muhammad Abduh
dalam Risalatut Tauhid berpendapat bahwa wahyu adalah pengetahuan yang di
dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai keyakinan bahwa semua
itu datang dari Allah SWT, baik melalui pelantara maupun tanpa pelantara. Baik
menjelma seperti suara yang masuk dalam telinga ataupun lainya.
Dalam Islam wahyu atau sabda Tuhan
yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW terkumpul semuanya dalam al-Qur’an.
Salah satu ayat menjelaskan:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (الشورى:51)
Artinya : Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Q.S al-Syura : 51)
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (الشورى:51)
Artinya : Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Q.S al-Syura : 51)
Jadi di turunkannya wahyu ada tiga
cara :
1. Melalui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham
2. Dari
belakang tabir sebagai yang terjadi dengan Nabi Musa
3. Melalui
utusan yang dikirimkan dalam bentuk malaikat.
Wahyu berfungsi
memberi informasi bagi manusia. Yang dimaksud memberi informasi disini yaitu
wahyu memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada tuhan,
menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan
perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat.
Sebenarnya wahyu
secara tidak langsung adalah senjata yang diberikan Allah kepada Nabi-nabiNYA
untuk melindungi diri dan pengikutnya dari ancaman orang-orang yang tak
menyukai keberadaanya. Dan sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang
pencipta yaitu Allah SWT.
Memang sulit saat ini
membuktikan jika wahyu memiliki kekuatan, tetapi kita tidak mampu mengelak
sejarah wahyu ada, oleh karna itu wahyu diyakini memiliki kekuatan karena
beberapa faktor antara lain:
1.
Wahyu ada karena ijin
dari Allah, atau wahyu ada karena pemberian Allah.
2.
Wahyu lebih condong
melalui dua mukjizat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
3.
Membuat suatu
keyakinan pada diri manusia.
4.
Untuk memberi
keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib.
5.
Wahyu turun melalui
para ucapan nabi-nabi.
3.
KEDUDUKAN AKAL DAN
WAHYU DALAM ISLAM
Kedudukan antara wahyu
dalam islam sama-sama penting. Karena islam tak akan terlihat sempurna jika tak
ada wahyu maupun akal. Dan kedua hal ini sangat berpengaruh dalam segala hal
dalam islam. Dapat dilihat dalam hukum islam, antar wahyu dan akal ibarat
penyeimbang. Andai ketika hukum islam berbicara yang identik dengan wahyu, maka
akal akan segerah menerima dan mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut sesuai
akan suatu tindakan yang terkena hukum tersebut.karena sesungguhnya akal dan
wahyu itu memiliki kesamaan yang diberikan Allah namun kalau wahyu hanya
orang-orang tertentu yang mendapatkanya tanpa seorangpun yang mengetahui, dan
akal adalah hadiah terindah bagi setiap manusia yang diberikan Allah.
Dalam Islam, akal
memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian bukan berarti akal diberi
kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya.
Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat islam
dalam permasalahan apapun. Dan wahyu baik berupa Al-qur’an dan hadist bersumber
dari Allah SWT. Pribadi nabi Muhammad SAW yang menyampaikan wahyu ini melainkan
peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu. Wahyu merupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia,
tanpa mengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum
atau khusus. Apa yang dibawa oleh
wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan
dengan prinsip-prinsip akal. Wahyu itu
merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah.Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori
perbuatan manusia. baik perintahmaupun larangan. Sesungguhnya wahyu yang berupa al-qur’an dan as-sunnah turun secara
berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang.
Namun
tidak selalu mendukung antara wahyu dan akal, karena seiring perkembangan zaman
akal yang semestinya mempercayai wahyu adalah sebuah anugrah dari Allah
terhadap orang yang terpilih, terkadang mempertanyakan keaslian wahyu tersebut.
Apakah wahyu itu benar dari Allah ataukah hanya pemikiran seseorang yang
beranggapan smua itu wahyu. Seperti pendapat Abu Jabbar bahwa akal tak
dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada
upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain, demikian pula akal tak
mengetahui bahwa hkuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman
untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan
perantaraan wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian
hukuman dan upah yang akan diperoleh manusia di akhirat.
Karena Masalah akal dan wahyu dalam pemikiran
kalam sering dibicarakan dalam konteks, yang manakah diantara kedua akal dan
wahyu itu yang menjadi sumbr pengetahuan manusia tentang tuhan, tentang
kewajiban manusia berterima kasih kepada tuhan, tentang apa yang baik dan yang
buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang
buruk.
4. PENDAPAT-PENDAPAT
BEBERAPA ALIRAN TENTANG AKAL DAN WAHYU
Maka para aliran islam memiliki pendapat sendiri-sendiri antra
lain:
1.
Aliran Mu’tazilah sebagai penganut
pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa pengetahuan dapat di peroleh
dengan perantaraan akal, dan kewajiban-kewajiban dapat di ketahui dengan
pemikiran yang mendalam,[3]
2.
Sementara itu Aliran Maturidiyah Samarkand yang juga
termasuk pemikiran kalam tradisional, mengatakan juga kecuali kewajiban
menjalankan yang baik dan yang buruk akan mempunyai kemampuan mengetahui ketiga
hal tersebut.
3.
Sebaliknya Aliran Asy’ariyah, sebagai penganut
pemikiran kalam tradisional juga berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui
tuhan sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajiban berterima kasih kepada tuhan,
baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang
jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu,[4]
4.
Sementara itu aliran maturidiah Bukhara yang juga
digolongkan kedalam pemikiran kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari
keempat hal tersebut yakni mengetahui tuhan dan mengetahui yang baik dan buruk dapat
diketahui dngan akal, sedangkan dua hal lainnya yakni kewajiaban berterima
kasih kepada tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan
yang buruk hanya dapat diketahui dengan wahyu.[5]
Adapun
ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh paham Maturidiyah Samarkand dan mu’tazilah,
dan terlebih lagi untuk menguatkan pendapat mereka adalah surat as-sajdah,
surat al-ghosiyah ayat 17 dan surat al-a’rof ayat 185. Di samping itu, buku
ushul fiqih berbicara tentang siapa yang menjadi hakim atau pembuat hukum
sebelum bi’sah atau nabi diutus, menjelaskan bahwa Mu’tazilah berpendapat
pembuat hukum adalah akal manusia sendiri. dan untuk memperkuat pendapat mereka
dipergunakan dalil al-Qur’an surat Hud ayat 24.Sementara itu aliran kalam
tradisional mngambil beberapa ayat Al-qur’an sebagai dalil dalam rangka
memperkuat pendapat yang mereka bawa . ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 surat
al-isro, ayat 134 surat Taha, ayat 164 surat An-Nisa dan ayat 18 surat Al-Mulk.
Dalam menangani hal
tersebut banyak beberapa tokoh dengan pendapatnya memaparkan hal-hal yang
berhubungan antara wahyu dan akal. Seperti Harun Nasution menggugat
masalah dalam berfikir yang dinilainya sebagai kemunduran umat islam dalam
sejarah. Menurut beliau yang diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasi
pemahaman umat islam yang dinilai dogmatis tersebut, yang menyebabkan
kemunduran umat islam karena kurang mengoptimalkan potensi akal yang
dimiliki. bagi Harun Nasution agama dan wahyu pada hakikatnya hanya dasar saja
dan tugas akal yang akan menjelaskan dan memahami agama tersebut.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Akal adalah daya pikir untuk
memahami sesuatu, yang di dalamnya terdapat kemungkinan bahwa pemahaman yang
didapat oleh akal bisa salah juga bisa benar. Fungsi Akal Adalah dapat
mengetahui beharusan berterima kasih kepada pemberi nikmat. Tuhan adalah
pemberi nikmat terbesar dengan demikian dalam hal ini akal tidak mempunyai
petunjuk yang kuat untuk mengetahui kewajiban melaksanakan pengetahuan tentang
baik dan buruk.
2.
Wahyu adalah firman Allah yang disampaikan
kepada nabi-Nya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk disampaikan kepada
umat. Pengetahuan adalah hubungan subjek dan objek, sedangkan ilmu adalah
pengetahuan yang telah teruji secara ilmiah dan kebenarannya jelas. Fungsi Wahyu adalah Menggambarkan kelemahan manusia karena wahyu
di turunkah Tuhan untuk menolong manusia memperoleh pengetahuan- pengetahuan.
3.
Kedudukan Akal dan wahyu
digunakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Antara akal dan
wahyu terdapat ruang dimana keduanya dapat bertemu dan bahkan saling
berinteraksi dan terdapat ruang dimana keduanya harus berpisah. Pada saat wahyu
merekomendasikan berkembangnya sains dan lestarinya budaya dengan memberikan
ruang kebebasan untuk akal agar berpikir dengan dinamis, kreatif dan terbuka,
disanalah terdapat ruang bertemu antara akal dan wahyu. Sehingga hubungan
antara akal dan wahyu tidak bertentangan akan tetapi sangat berkaitan antara
yang satu dengan yang lainnya, bahkan kedua-duanya saling menyempurnakan.
4.
Menurut pendapat beberapa
aliran teologi islam seperti aliran mu’tazilah, aliran
Maturidiyah Samarkand, aliran asy’ariyah,
aliran maturidiah Bukhara aliran ini sama-sama menganut kalam Tradisional.
DAFTAR PUSTAKA
[2] Nasution,
Harun Teologi Islam (Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan),
UI Press, Jakarta,cet.V,1986.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar