Malang, 01 Maret 2015
MUSYAWARAH
CABANG XX IMM MALANG,
MENUJU IMM BERKEMAJUAN
Singosari
Malang – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang
melaksanakan musyawarah cabang ke XX pada tanggal 27 februari – 1 maret 2015 di BLK Singosari, dimana
Musyawarah Cabang (Musycab) IMM merupakan musyawarah tertinggi di tingkat
cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang merupakan agenda rutinitas tahunan
dan harus dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Sebagai langkah penguatan
pergerakan dan pergerakan IMM di Malang , tema yang diusung kali ini alalah “Reposisi
Gerakan IMM Cabang Malang. Memperkuat Landscape Gerakan Studi-Aksi Menuju IMM
yang berkemajuan”.
Pelaksanaan musycab ini tidak hanya
sebagai agenda seremonial pergantian kepemimpinan saja, tetapi yang jauh lebih
penting dari semua itu adalah musycab sebagai langkah evaluasi sekaligus
refleksi progam kerja IMM cabang Malang selama satu tahun kepengurusan
sebelumnya. Demikian sambutan Bupati Malang Rendra Krisna, yang disampaikan
oleh yang mewakili. Dalam sambutannya Bupati Malang Juga mengapresiasi IMM
Cabang malang karena dengan diadakannya Musycab ini menandakan Organisasi ini
hidup.
Dalam kesempatan itu juga Imm.Muhammad
Yusuf Hamdani selaku Ketua Umum IMM cabang Malang mengatakan bahwasannya IMM
cabang Malang ini adalah IMM terbesar yang ada di Indonesia bukan hanya besar
kuantitasnya tetapi nantinya juga mampu dan kuat dalam hal kualitasnya. Diharapkan
IMM cabang Malang kedepan mampu untuk menciptakan Grand desain Perkaderan IMM
cabang Malang yang mampu menciptakan IMM yang berkemajuan.
Pada Musyawarah Cabang XX, IMM Malang ini
juga dihadiri oleh ketua DPD IMM Imm.Najih Prasetyo dan juga Bapak Mursidi
selaku Ketua Muhammadiyah Kabupaten Malang. Ini menunjukkan adanya hubungan
baik yang diciptakan oleh IMM cabang Malang baik dalam lingkup Internal
Muhammadiyah maupun dari Eksternal Muhammadiyah.
Sidang Musycab IMM XX Malang awalnya
dipimpin oleh SC dan kemudian dilimpahkan kepada presidium sidang terpilih
yaitu predisium sidang pertama Imm.Damanhuri Jeb, kedua Imm.Gheo Saputra dari
Komisariat Rausan Fikr Universitas Muhammadiyah Malang dan yang ketiga
Imm.Achmad Fuad Hasyim dari Komisariat Reformer UIN MALIKI Malang, Musycab ini
berlangsung selama 3 hari yang dihadiri oleh 4 delegasai dari masing-masing komisariat
yang tersebar di Malang, mulai dari UMM, UIN MALIKI Malang, UB, UM, UNIKA dan
Universitas Budi Utomo yang terdiri dari 21 Komisariat, Gagasan yang dihasilkan
dari musyawarah cabang XX IMM Malang ini meliputi Grand Desain Perkaderan IMM
cabang Malang, Grand Desain Immawati Cabang Malang dan hasil dari sidang komisi
A menetapkan adanya bidang Ekonomi dan Kewirausahaan yang menambah jumlah
bidang menjadi 9 bidang dalam kepengurusan kedepan yang awalnya hanya 8 bidang,
terpilihnya 13 Formatur yang nantinya merancang Pimpinan Harian IMM cabang
Malang periode 2015/2016.
Nantinya gagasan tersebut akan
dituangkan dalam progam kerja Pimpinan Harian IMM cabang Malang kedepan yaitu
kepengurusan yang dipimpin oleh Imm. Fauzan yang dalam hal ini menjadi Ketua
terpilih PC.IMM Cabang Malang periode 2015/2016, yang nantinya membawa IMM
cabang malang dalam memperkuat landscape gerakan Studi-Aksi menuju IMM Berkemajuan.
OLEH:
Immi. Choirina
KEKUASAAN PENDIDIKAN BUKAN KEKUASAAN
POLITIK SEBAGAI LANDASAN BERFIKIR KADER IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
A. PENDAHULUAN
Apabila kita berbicara
mengenai kekuasaan, maka yang tergambar adalah pemerintah dan birokrasinya,
ataupun kekuasaan yang dipegang oleh seseorang, kekuasaan kaum konglomerat,
ataupun kekuasaan-kekuasaan lainnya yang kita kenal dalam kehidupan masyarakat.
Jadi apa hubungan antara pendidikan dengan kekuasaan ? sepintas tidak ada
hubungan apa pun antara pendidikan dengan kekuasaan. Tidak pernah kita dengar
bahwa pendidikan dikerahkan untuk mengambil alih kekuasaan politik atau
kekuasaan ekonomi ataupun dalam bentuk
kekuasaan lain.[1] Dalam pandangan lain
pengetahuan adalah kekuasaan dan kekuasaan adalah pengetahuan.[2]
Pendidikan ternyata merupakan
sumber transformasi sosial masyarakat modern. Dengan kata lain, pendidikan dan
kekuasaan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebagai salah satu contoh,
betapa pendidikan mengubah wajah dunia ketika muncul negara-negara baru akibat
hapusnya kolonialisme, orang melihat betapa besar kekuasaan pendidikan dalam
mengubah cara hidup atau kebudayaan suatu bangsa.[3]
Pendidikan dan transformasi
sosial bukan hanya terjadi dinegara-negara berkembang tetapi juga di negara
maju, sebagai contoh, pemberontakan kaum muda yakni revolusi mahasiswa di
Perancis pada tahun 1968. Dan keadaan yang juga hampir sama dialami di negara
kita Indonesia yaitu transformasi politik sosial budaya di Indonesia dengan
lahirnya era reformasi yang dipelopori oleh Mahasiswa.
Dari pandangan diatas penulis
ingin melihat lebih jauh mengenai pendidikan yang merupakan salah satu kekuatan
atau mungkin kekuasaan dasar dari suatu masyarakat yang sedang bergerak maju,
sebagai landasan berfikir kader IMM sehingga tidak terbelenggu oleh kekuasaan
politik atau bahkan politik praktis yang sedang berkembang dikalangan
Mahasiswa.
B. PEMBAHASAN
1.
APA YANG DISEBUT KEKUASAAN ?
Masalah
kekuasaan sangat menarik terutama dalam masyarakat modern. Boleh dikatakan
seluruh aspek kehidupan manusia diliputi oleh pengaruh kekuasaan. Dalam
kehidupan sehari-hari kita diatur oleh berbagai jenis kekuasaan, seperti
kekuasaan militer, kekuasaan ekonomi, kekuasaan politik dan lain sebagainya.
Diantara berbagai jeniskekuasaan itu biasanya kekuasaan politik dianggap sangat
menonjol dalam kehidupan manusia modern. Tetapi kekuasaan politik hanyalah
merupakan sebagian dari apa yang disebut dengan kekuasaan sosial. Seorang pakar
sikologi, Gianfranco Poggi membedakan kekuasaan sosial atas tiga jenis yaitu
Kekuasaan Politik, Kekuasaan ekonomi dan Kekuasaan Normatif dan Ideologis.[4]
Di
dalam Muhammadiyah terdapat tiga kategori kekuasaan elite: pertama, kekuasaan
elite sebagai kemampuan untuk mempengaruhi individu-individu lain termasuk
anggota dan simpatisan Muhammadiyah, kedua, kekuasaan sebgai kemampuan
untuk mempengaruhi pembuatan keputusan organisasi, ketiga, kekuasaan sebagai kemampuan untuk mengalokasikan
nila-nilai secara otoratif, ini sebagi penentu bagi perjalanan Muhammadiyah di
masa depan.[5]
Apakah
kekuasaan itu yang dimaksud penulis sebagai landasan berfikir kader IMM,
ataukah kekuasaan yang lainnya?
2. KEKUASAAN DAN PENGETAHUAN MENURUT FOUCAULT
Bagi Foucault,
kekuasaan tidak pernah lepas dari pengetahuan. Untuk itu, Foucault mengatakan
bahwa “kekuasaaan menghasilkan pengetahuan, Kekuasaan dan pengetahuan
saling terkait, tidak ada hubungan kekuasaan tanpa pembentukan yang terkait
dengan bidang pengetahuan, dan tidak ada pengetahuan yang tidak mengandaikan
serta tidak membentuk sekaligus hubungan kekuasaan” (Surveiller et Punir
(1975), hal. 36).[6]
Ketika berbicara
kaitan antara kekuasaan dan pengetahuan secara tidak langsung bersentuhan
dengan kodrat manusia mencari dan mengetahui. Penulis boleh mengatakan bahwa
usaha mengetahui dalam konteks kekuasaan menurut Foucault harus diletakan dalam
ranah sosietas. Ada banyak indikasi keterkaitan antara keduannya. Yang pertama
ialah peran bahasa. Bagi Foucault, bahasa menjadi sarana dalam
mengartikulasikan kekuasaan. Gagasan ini sejalan dengan apa yang dikatakan
Habermas yang melihat bahasa bukan hanya sebagai alat komunikasi tetapi
memilikipowerfullty propaganda dan wacana. Atau dengan kata
lain, dengan menerapkan teori emansipatoris, Habermas menunjukan kekuasan
atau politik juga menunjukan pola komunikatif, diskursif, kritis dalam hidup
sosial. Oleh karena itu, tidak ada kekuasaan yang dijalankan dengan kekerasan
karena kekuasaan terjadi dalam situasi komunikatif diantara orang-orang yang
sedang mencari dan berusaha untuk mengetahui esensi dari hidup
bersama.[7]
Bagi penulis, Foucoult
bukan tanpa dasar meletakkan pengetahuan sebagai dasar kekuasaan agar di
dalamnya orang diajak untuk berpikir dan bertindak kritis bukan hanya timbul
dari luapan emosi semata. Kekuasaan dan kekuatan dari setiap bidang ilmu
pengetahuan secara tidak sadar menjadi dasar dan membangkitkan ideologi bersama
untuk mencapai cita-cita hidup bersama. Untuk itu, kekuasaan dalam pengertian
Foucault tidak menunjuk pada figur atau bidang tertentu tetapi meliputi segala
dimensi kehidupan manusia.
3.
PENDIDIKAN DAN KEKUASAAN
Setelah kita melihat gambaran
kekuasaan yang melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari politik
ekonomi dan ideologis, maka timbul pertanyaan kepada kita apakah kekuasaan
mempunyai tempat dalam proses pendidikan?
Proses pendidikan
sebenarnya adalah proses pembebasan dengan jalan memberikan kepada peserta
didik suatu kesadaran akan kemampuan kemandirian atau memberikan kekuasaan
kepadanya untuk menjadi individu. Pemberian kekuasaan ini merupakan ciri
pedagogik transformatif atau kritis.[8]
Pengertian kekuasaan
dalam pendidikan ternyata mempunyai konotasi yang berbeda dengan pengertian
kekuasaan sebagaimana yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam
pendidikan ada dua jenis kekuasaan yaitu kekuasaan transformatif dan kekuasaan
yang berfungsi sebagai transmitif.
Kekuasaan pendidikan
yang bersifat transformatif tujuannya ialah dalam proses terjadinya hubungan
kekuasaan tidak ada bentuk subordinasi antara subjek yang lain. Kekuasaan transformatif
bahkan membangkitkan refleksi dan refleksi tersebut menimbulkan aksi. Orientasi
yang terjadi dalam aksi tersebut merupakan orientasi yang advokatif. Sedangkan
dalam proses kekuasaan sebagai transmitif terjadi proses tranmisi yang
diinginkan oleh subjek yang memegang kekuasaan terhadap subjek yang terkena
kekuasaan itu sendiri.[9]
4.
KEKUASAAN PENDIDIKAN YANG MENJADI LANDASAN BERFIKIR KADER IMM
Dari beberapa uraian
di atas penulis mencoba untuk menarik intisari dari apa yang sebenarnya ingin
disampaikan dalam tulisan ini, sebagaimana yang kita ketahui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tidak lepas
kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap
sejalan dengann faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Kelahiran IMM juga
merupakan respond atas persoalan-persoalan keumatan dalam sejarah bangsa ini
pada awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah
sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu anatara lain
ialah sebagai berikut :[10]
1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak
stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal, serta adanya ancaman
komunisme di Indonesia
2. Terpecahnya belahnya umat Islam dalam
bentuk saling curiga dan fitnah serta kehidupan politik umat Islam yang semain
buruk
3. Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus
(mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis
4. Melemahnya kehidupan beragama dalam
bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme
5. Sedikitnya pembinaan dan penidikan
agama dalam kampus, srta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekunder.
6. Masih memebekasnya ketertindasan
imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan
kemiskinan.
7. Masih banyaknya praktek-praktek
kehidupan yang serba bid’ah khurafat, bahkan kesyirikan, serta semakin
meningkatnya misionaris-Kristenisasi.
8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik
yang semakin memburuk.
Berangkat dari lahirnya,
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sudah dihadapkan pada problematika kekuasaan. Ini
sebenarnya yang menjadi ancaman, yang ditakutkan pola pikir dari kader IMM
mengarah pada kekuasaan politik yang mengantarkan kader IMM kepada politik
praktis. Berangkat dari tulisan ini diharapkan kader IMM bisa membedakan letak
dari kekuasaan itu seperti kekuasaan
pengetahuan yang di usung oleh Foucoult, yang meletakkan pengetahuan sebagai
dasar kekuasaan agar kader IMM yang menjadi Ruh organisasi mau diajak untuk
berpikir dan bertindak kritis bukan hanya timbul dari luapan emosi semata.
Kekuasaan dan kekuatan
dari setiap bidang ilmu pengetahuan secara tidak sadar menjadi dasar dan
membangkitkan ideologi bersama untuk mencapai cita-cita hidup bersama Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah yaitu “mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang
berakhlak mulia, dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”.
Selanjutnya dalam
pendidikan dan kekuasaan yang bersifat transformatif tujuannya disebutkan akan
menimbulkan refleksi, dan refleksi tersebut menimbulkan aksi. Sekali lagi
landasan berfikir kader IMM harus kritis dan menimbulkan aksi yang nyata tanpa
harus meninggalkan falsafah gerakan IMM, yaitu IMM
sebagai gerakan intelektual dengan penurunannya “pemaksimalan akal
dalam membaca fenomena untuk mencari kebenaran yang bersumber pada al Qur’an
dan Sunnah terformulasikan dalam humanisasi, liberasi, trasendensi”. Dan
juga berdasarkan falsafah perkaderan IMM, yang mengandung nilai-nilai: Uswahtun
hasanah, Pedagogi-kritis dan Hikmah.
Diharapkan
kader IMM mampu meneruskan perjuangan dari Bambang Sudibyo salah satu Tokoh
Muhammadiyah yang memulai kiprahnya di Muhammadiyah lewat IMM UGM sebagai jalan
dakwah melalui bidang pendidikan, beliau juga menyampaikan aktivitas IMM pada
awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan
pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai
“Kelompok Pengajian Mahasiswa”.[11]
Tidak
berhenti pada tataran keagamaan saja tetapi kader IMM juga harus mampu
menyeimbangkan tri kopetensi dasar ikatannya yaitu Religiusitas,
Intelektualitas dan Humanitas. Karena denga ketiga aspek tersebut yang
dilandasi dengan keuasaan pengetahuan dan pendidikan akan menjadikan kader IMM
Kritis dan peka atas segala persoalan yang ada dalam soaial masyarakat.
C.
KESIMPULAN
Landasan berfikir
kader IMM adalah Kekuasaan pendidikan dan pengetahuan bukan kekuasaan politik
yang saat ini berkembang dikalangan Mahasiswa.
Kekuasaan dalam
pengetahuan mengajak kader IMM sebagai Ruh Ikatan untuk berpikir dan bertindak
kritis bukan hanya timbul dari luapan emosi semata. Dan sedangkan Kekuasaan
pendidkan yang transformatif yang membangkitkan refleksi dan refleksi tersebut
menimbulkan aksi.
Dengan landasan
berfikir tersebut kader IMM yang menjadi Ruh Ikatan akan mengantarkan kepada
cita-cita atau tujuan ikatan yaitu “mengusahakan terbentuknya akademisi Islam
yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”.
DAFTAR PUSTAKA
Fathoni, Farid. 1990. Kelahiran
yang dipersoalkan: Seperempat abada Ikalatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM),
1964-1989. Surabaya: Bina Ilmu.
Foucault, Michel. 2009. Pengetahuan dan Metode:
Karya-karya Penting Michel Foucault. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.
Terjemahan.
Haryatmoko.
2003. Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: Kompas.
Jurdi, Syaifuddin. 2004. Elite
Muhammadiyah dan Kekuasaan Politik. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.
Ramly, N., & Sucipto, H. 2010. Ensiklopedi
Tokoh Muhammadiyah. Jakarta: Best Media.
Riyanto, E. Armada. 2009. Politik,
Sejarah, Identitas, Postmodernitas. Malang: Widya Sasana Publication. Hal.
22.
Tilaar., H. 2003. Kekuasaan dan
Pendidikan. Magelang:Indonesia Tera.
[1] Tilaar.,
H. 2003. Kekuasaan dan Pendidikan. Magelang:Indonesia Tera. Hal.61.
[2]
Foucault, Michel. 2009. Pengetahuan dan Metode: Karya-karya Penting Michel
Foucault. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra. Terjemahan. Hal. 348
[3] Ibid.,
Hal. 64.
[4] Ibid.,
Hal. 72
[5] Jurdi,
Syaifuddin. 2004. Elite Muhammadiyah dan Kekuasaan Politik. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press. Hal. 101
[6] Haryatmoko.
2003. Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: Kompas. Hal. 224
[7] Riyanto,
E. Armada. 2009. Politik, Sejarah, Identitas, Postmodernitas. Malang:
Widya Sasana Publication. Hal. 22.
[8] Tilaar.,
H. 2003. Kekuasaan dan Pendidikan. Magelang:Indonesia Tera. Hal.87
[9] Ibid.,
Hal.88
[10]
Fathoni, Farid. 1990. Kelahiran yang dipersoalkan: Seperempat abada Ikalatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), 1964-1989. Surabaya: Bina Ilmu Hal.102.
[11] Ramly,
N., & Sucipto, H. 2010. Ensiklopedi Tokoh Muhammadiyah. Jakarta:
Best Media. Hal.306-307
Tidak ada komentar:
Posting Komentar