Sabtu, 03 September 2016

MATEMATIKA EKONOMI




METODE KUANTITATIF DALAM EKONOMI
(PENDEKATAN DiFERENSIAL & INDEKS HARGA)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas 
Matematika Ekonomi

Dosen Pembimbing :
Segaf.SE.MSc.













Disusun Oleh:
CHOIRINA  12510038



JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
NOVEMBER 2012


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari yang membutuhkan matematika. Kita dapat menjumpai matematika setiap harinya di sekitar kita. Bahkan untuk hal-hal kecil seperti membeli makan di kantin dan lain sebagainya. Dalam ekonomi pun matematika berpengaruh banyak.
Secara garis besar metode kuantitatif  sangat lazim diterapkan dalam teori ekonomi, seperti penerapan diferensial maupun indeks harga.  Maka dar itulah maka kelompok kami mengangkat masalah metode kuantitatif dalam Ekonomi
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan defarensial ?
2.      Sebut dan Jelaskan deferensial dalam ekonomi ?
3.      Apa yang dimaksud dengan indeks harga ?
4.      Sebutkan macam – macam indeks harga?
C.      Tujuan
1.      Mengetahui pengertian deferansial
2.      Mengetahui penerapan deferensial dalam ekonomi
3.      Mengetahui pengertian indeks harga.
4.      Memahami tentang indeks harga tidak tertimbang dan indeks harga tertimbang.





BAB II
METODE KUANTITATIF DALAM EKONOMI
1.     PENDEKATAN DEFERENSIAL
A.    Pengertian Diferensial
Diferensial merupakan perbandingan antar perubahan nilai y dengan perubahan nilai x. Diferensial membahas tentang tingkat perubahan suatufungsi sehubungan dengan perubahan kecil dalam variabel bebas fungsi yang bersangkutan. Diferensial menjadi salah satu alat analisis yang sangat penting dalam bisnis dan ekonomi.

Rumus:  =
Simbol:
                                                 [1]

B.     Penerapan Diferensial dalam Ekonomi
1.      Elastisitas
Elastisitas dari suatu fungsi  y = f(x) berkenaan dengan x dapat didefinisikan sebagai:
Ini berarti bahwa elastisitas y = f(x) merupakan limit dari rasio antara perubahan relatif dalam y terhadap perubahan dalam yang sangat kecil dan mendekati nol. Dengan terminologi lain elatisitas y terhadap x juga dikatakan sebagai rasio antara presentase perubahan y terhadap presentase perubahan x. [2]



a.       Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan adalah suatu koefisien yang menjelaskan besarnya jumlah barang yang diminta akibat adanya perubahan harga. Jadi, merupakan rasio antara presentase perubahan jumlah barang yang diminta terhadap presentase perubahan harga. Jiak fungsi permintaan dinyatakan dengan Qd=f(P) maka elastisitas permintaannya:

Ƞd =  =  =  = .

Dimana dQd/ dP tak lain adalah Q’d atau f’(P). [3]
Contoh:
Funngsi permintaan suatu barang ditunjukkan oleh persamaan Qd = 40 - , hitunglah elastisitas permintaan pada tingkat P=6
Jawab :
Qd = 40 –             Qd’ =  = -4p
Jadi Ƞd =  -
            = -4P .
            = -4(6) .
            =  = 4,5  5
b.      Elastisitas Penawaran
Elastisitas penawara adalah koefisien yang menjelaskan besarnya perubahan barang yang ditawarkan berkenaan dengan adanya harga. Jika fungsi penawaran dinyatakan Qs = f(P) maka elastisitas penawarannya:
Ƞs =  =  =  = .
Dimana dQs/ dP tak lain adalah Q’s atau f’(P). [4]
c.       Elastisitas Produksi
Ƞp =  =  =  = .
Dimana dP/dX adala produk marginal (P’ atau f’(X)). [5]

2.      Biaya Marginal
Biaya mrgianal adalah biaya tambahan yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu unit tambahan output. Rumus:[6]
MC = C’= dC/dQ
Contoh:
Biaya Total yang di keluarkan oleh sebuah pabrik di tunjukan oleh persamaan C= =  = 240Q = 42.800. pada tingkat produksi berapa unit marginal minimum tercapai ? berapa biaya marginal minimum tersebut.
Jawab :
C= =  = 240Q = 42.800
MC = C’ =  =  - 120 Q – 240
MC minimum bila (MC)’ = 0
(MC)’ = 6Q – 120
                  Q = 20
MC minimum =  3 =  - 240Q
                        = - 3840

3.      Hubungan biaya marginal dengan biaya rata-rata
Hubungan biaya mrginal dengan rata-rata dapat ditunjukkan dengan persamaan berikut:[7]
Biaya Marginal            MC = C’= dC/Dq
Biaya rata-rata             AC =
Jadi      =          AC =  =  (AC)’ =  =
AC' = 0     = 0
QC’ – C = 0
C’ =
MC’ = C’ =   Maka MC sama halnya dengan posisi minimum dari AC.
                        Jadi MC = AC dimana  =  
Contoh :
Biaya total C = - + 16Q
Biaya Marginal MC= C’ = - + 16
Biaya rata-rata AC =  =  = - + 16
(AC)’ =  =  = 2Q – 8
Agar AC minimum (AC)’ = 0  2Q – 8
     2Q = 8
                                                                               Q = 4
C =  = - 240 (20)  42.800
                           = 34.000
4.      Produk Marginal
Produk Marginal adalah Output tambahan yang dihasilkan dari adanya penggunaan suatu unit tambahan input.
Rumus : [8]
MP = P’ =
Contoh :
P = f(X) =  -
MP = P’ =  24x -
Titik max p adalah pada saat P’ = MP = 0
Berarti 24x –
Untuk X = 6 maka P =  -  = 396

5.      Hubungan Produk Marginal dengan rata-rata
Sama halnya dengan hubungan antara biaya marginal dengan biaya rata-rata mencapai titik  ekstrimnya maka produk marginalnya sama dengan produk rata- rata.[9] Maka,
            Produk Marginal MP =  dan
Produk rata-rata AP =
                        Maka AP’ =
                                       =
                        Jadi MP = AP,  =
                        Contoh :
1.      Produk total P = -  carilah produk marginal dan produk rata-rata
Jawab :
a)      Produk Marginal : MP = P’ =   = 16x -
b)      Produk rata-rata AP =  = 8x –

2.      INDEKS HARGA
A.      Pengertian Indeks Harga
Sebelum mengenal indeks harga, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan angka indeks.
Dalam kehidupan ekonomi, kita mengalami kemajuan dan kemunduran setiap saat. Tapi sebenarnya, bagaimanan kita mengetahui kemajuan dan kemunduran tersebut? Bagaimana kita mengetahui kemajuan yang diperoleh itu besar dan kerugian yang diperoleh itu tidak banyak? Untuk mengetahuinya, kita harus melakukan perbandingan atas dua hal yang sama. Inilah yang dimaksud dengan angka indeks. Jadi angka indeks adalah perbandingan antar dua angka pada periode waktu yang berbeda.[10]
Dalam perekonomian, angka indeks sangat diperlukan untuk menghitung indeks harga. Ada beberapa jenis angka indeks seperti indeks harga konsumen, indeks harga perdagangan besar, dan indeks harga yang dibayar dan diterima petani. Untuk menentukan indeks harga, kita dapat menggunakan dua metode, yaitu indeks harga tidak tertimbang dan indeks harga tertimbang. Metode harga agregatif tertimbang dibagi atas metode Laspeyres, metode Paasche dan metode Tahun Khas.[11]
B.       Macam-macam Indeks Harga
1.      Indeks Harga Tidak Tertimbang
Dengan metode ini, indeks harga merupakan rasio antara penjumlahan harga-harga komoditi dalam satu kelompok pada tahun ke-n dengan penjumlahan harga-harga komoditi dalam kelompok tersebut pada tahun dasar. Rumusnya sebagai berikut:

IA =  x 100
 

IA            =             indeks harga pada tahun ke-n menurut metode agregatif
∑Pn        =             harga tahun tertetu.[12]
Contoh soal:
Diketahui tabel harga kebutuhan pokok masyarakat Desa Seboro
No
Jenis Barang
2010
2011
1
Beras
6000
7500
2
Telur
12000
14500
3
Gula Pasir
14000
15000
4
Ikan Asin
3500
4000
5
Minyak Goreng
7000
8500


42500
49500

Dari tabel di atas maka indeks harga dengan metode agregatif sederhana tahun 2011 dengan tahun dasar 2010:
IA =   x 100 =  x 100 = 116,47
            Ini berarti harga-harga dalam kelompok barang tersebut mengalami kenaikan sebesar 16,47 (1116,47-100) dibandingkan tahun sebelumnya.
2.      Indeks Harga Tertimbang
a.      Indeks Laspeyres
Perhitungan indeks Laspeyres banyak dipergunakan oleh berbagai lembaga dalam menghitung angka indeks harga. Badan Pusat Statistik merupakan salah satu pihak yang menggunakan indeks Laspeyres.
Metode ini menggunakan jumlah (kuantitas) barang pada tahun dasar sebagai timbangan terhadap harga, yakni jumlah barang paada tahun dasar dikalikan dengan harga barang pada tahun dasar dan tahun tertentu. Dengan cara ini, kita bisa mengetahui perubahan harga dengan menganggapa kuantitas barang tidak berubah dari tahun ke tahun sejak tahun dasar, atau pengaruh perubahan kuantitas barang dianggap tidak ada.

  IL =  x 100
Rumus Indeks Laspeyser adalah sebagai berikut.
                                                                  [13]         
                                                                       
IL    =          indeks Laspeysers yang dicari
Pn   =          harga tahun tertentu
Po   =          harga tahun dasar
Q=          jumlah barang pada tahun dasar
Contoh soal :
Diketahui tabel harga kebutuhan pokok masyarakat Desa Seboro
No
Jenis Barang
Harga

Kuantitas





2010 (Po)
2011 (Pn)
2010 (Qo)
2011(Qn)
Po Qo
Pn Qn
1
Beras
6000
7500
10
8
60000
60000
2
Telur
12000
14500
15
20
180000
290000
3
Gula Pasir
14000
15000
20
18
280000
270000
4
Ikan Asin
3500
4000
25
30
87500
120000
5
Minyak Goreng
7000
8500
30
50
210000
425000


42500
49500


817500
1165000

IL =  x 100 = 142,51
      Ini berarti, harga-harga dalam kelompok baranga tersebut mengalami kenaikan sebesar 42,51% (142,51-100) dibandingkan tahun sebelumnya.
Kelemahan indeks Laspeysers adalah tidak bisa memperkirakan perubahan harga yang diakibatkan karena orang mengganti satu produk dengan produk lainnya (subtitusi). Jika harga dan jumlah barang tidak memiliki hubungan, maka bias indeks ini hilang.
b.      Indeks Paasche
Selain indeks Laspeysers, ada indeks yang cukup sering digunakan, yaitu indeks Paasche. Indeks Paasche pada dasarnya mirip dengan indeks Laspeysers. Perbedaannya adalah Indeks Paasche menggunakan jumlah barang pada tahun dasar.
Rumus yang digunakan indeks Paasche adalah:

   Ip =  x 100
 



Ip   =          indeks Paasche yang dicari
Pn   =          harga tahun tertentu
Po   =          harga tahun dasar
Qo  =          jumlah barang pada tahun dasar[14]
Contoh soal :
Diketahui tabel harga kebutuhan pokok masyarakat Desa Seboro
No
Jenis Barang
Harga

Kuantitas





2010 (Po)
2011 (Pn)
2010 (Qo)
2011(Qn)
Po Qo
Po Qn
1
Beras
6000
7500
10
8
60000
48000
2
Telur
12000
14500
15
20
180000
240000
3
Gula Pasir
14000
15000
20
18
280000
252000
4
Ikan Asin
3500
4000
25
30
87500
105000
5
Minyak Goreng
7000
8500
30
50
210000
350000


42500
49500


817500
995000


Ip =  x 100 = 121,71
Ini berarti harga-harga dalam kelompok barang tersebut mengalami kenaikan sebesar 21,71% (121,71-100) dibandingkan tahun sebelumnya.
Seperti indeks Laspeyser, salah satu kekurangan indeks harga Paasche adalah ketidakmampuannya untuk melihat perubahan konsumsi karena adanya pergantian produk, sehingga perkiraan yang terjadi bisa dibawah atau diatas harga yang sebenarnya.
















BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Penerapan Defarensial  adalah suatu persamaan yang meliputi turunan fungsi dari satu lebih variable terikat satu atau lebih bebas.
2.      Pendekatan deferensial dalam ekonomi antara lain elastisitas, biaya marginal, hubugan biaya marginal dengan rata-rata,produk marginal dan hubungan produk marginal dengan rata - rata. 
3.      Indeks harga adalah
4.      Indeks harga ada 2 macam yatitu indeks harga tidak tertimbang dan indeks harga tertimbang.













LAMPIRAN
STUDI KASUS

DAFTAR: HARGA RATA-RATA KEBUTUHAN POKOK MASYARAKAT
Di Ibukota Kabupaten
: Tanjung Jabung Barat (Kuala Tungkai)
Minggu
: I (Pertama)
: Januari 2012
No
Nama Barang
Satuan
Harga
Minggu Lalu
Minggu Ini
1
Beras
Kg



IR 42
Kg
 Rp       9.000
 Rp       9.000

Serey
Kg
 Rp       8.000
 Rp       8.000

Solok
Kg
 Rp     11.000
 Rp     12.000

Putri Palembang
Kg
 Rp       9.000
 Rp       9.000

Strawberry
Kg
 Rp       9.000
 Rp       9.000

Cucak Rowo
Kg
 Rp       9.000
 Rp       9.000
2
Gula Pasir
Kg
 Rp     10.500
 Rp     10.500
3
Minyak Goreng
Kg



Minyak Goreng Sawit Murah
Kg
 Rp       9.000
 Rp     11.000

Minyak Goreng Kemasan
Kg
 Rp     13.000
 Rp     13.000

Bimoli
Ltr
 Rp     14.500
 Rp     14.500

Fortune
Ltr
 Rp     13.500
 Rp     13.500

Sania
Ltr
 Rp     14.000
 Rp     14.000

Mentega
Kg



Blue Band
Kg
 Rp       5.500
 Rp       5.500

Simas
Kg
 Rp       4.000
 Rp       4.000

Amanda
Kg
 Rp       3.500
 Rp       3.500
4
Daging




Daging Sapi
Kg
 Rp     90.000
 Rp     90.000

Daging Ayam Broiler
Kg
 Rp     22.000
 Rp     25.000

Daging Ayam Kampung
Kg
 Rp     38.000
 Rp     40.000
5
Telur




Ayam Broiler
Butir
 Rp       1.100
 Rp       1.000

Ayam Kampung
Butir
 Rp       1.500
 Rp       1.500
6
Susu




a. Kental Manis




Enak
Klg
 Rp       6.700
 Rp       6.700

Tiga Sapi
Klg
 Rp       6.000
 Rp       6.000

Kremer
Klg
 Rp       6.000
 Rp       6.000

b. Susu Bubuk




Dancow Coklat
400 gr
 Rp     27.500
 Rp     27.500

Dancow Instant
400 gr
 Rp     29.200
 Rp     29.200

Dancow Full Cream
400 gr
 Rp     28.200
 Rp     28.200

Cap Bendera Coklat
400 gr
 Rp     24.500
 Rp     24.500
7
Jagung Pipilan
Kg
 Rp       2.500
 Rp       2.500
8
Minyak Tanah
Ltr
 Rp     12.000
 Rp     12.000
9
Garam Beryodium




Hancur
Kg
 Rp       2.000
 Rp       2.000

Halus
Kg
 Rp       1.700
 Rp       1.700
10
Tepung Terigu Segitiga Biru
Kg
 Rp       7.000
 Rp       7.000
11
Kedelai
Kg
 Rp       7.000
 Rp       7.000
12
Mie Instant




Indomie Kari Ayam
Bks
 Rp       1.500
 Rp       1.500

Indomie Goreng
Bks
 Rp       1.500
 Rp       1.500

Supermi Kari
Bks
 Rp       1.500
 Rp       1.500
13
Cabe




Cabe Hijau
Kg
 Rp     32.000
 Rp     30.000

Cabe Merah Besar
Kg
 Rp     45.000
 Rp     38.000
14
Bawang Merah
Kg
 Rp     11.000
 Rp     11.000
15
Bawang Putih
Kg
 Rp       8.000
 Rp       8.000
16
Ikan Teri
Kg
 Rp     30.000
 Rp     30.000
17
Kacang Hijau
Kg
 Rp     12.000
 Rp     13.000
18
Kacang Tanah Kupas
Kg
 Rp     15.000
 Rp     15.000



 Rp   612.900
 Rp   612.800

Dari tabel di atas kita hitung indeks harga dengan metode agregatif sederhana:

IA            =    x 100

=  x 100

=99,98




DAFTAR PUSTAKA
            Dumairy, Matematika terapan untuk bisnis dan ekonomi, BPFE-YOGYAKARTA, cetakan pertama, mei 2003 cetakan kedua, September 2007.
            Brennan, Michael J dan Thomas M. Carroll.1987. Preface to Quantitative Economics & Econometrics. Cincinnati: South-Westhen Publishing, Co.
            Tim Abdi Guru, Ekonomi SMA kelas xii, ERLANGGA,2006.
           










           



[1] Dumary, “Matematika Terapan Untuk Bisnis dan Ekonomi”, hal 198
[2] Ibid, Hal. 220
[3] Ibid, Hal. 221
[4] Ibid, hal.222.
[5] Ibid, hal.223.
[6] Ibid, hal. 225.
[7] Ibid, hal. 236
[8] Ibid, hal. 227.
[9] Ibid, hal. 237
[10] Tim Abdi Guru, Ekonomi SMA kelas xii, hal.240.
[11] Ibid, hal 240.
[12] .Brennan, Michael J dan Thomas M. Carroll.1987. Preface to Quantitative Economics & Econometrics. Cincinnati: South-Westhen Publishing, Co.
[13]  Tim Abdi Guru, Ekonomi SMA kelas xii, hal.240.
[14] Ibid.hal 241.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar