Sabtu, 03 September 2016

ILMU DAN FILSAFAT

A.    HUBUNGAN ILMU DENGAN FILSAFAT
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansional maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat mampu mengubah pola pemikiran bangsa yunani dan umat manusia dari pandangan mitrosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa. Karenanya para dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian disembah. Dengan filsafat, pola pikir yang selalu tegantung pada dewa diubah menjadi pola piker yang tergantung pada rasio. Kejadian alam seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan, dan bumi yang berada pada garis yang sejajar, sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.
Perubahan pola pikir mitosentris ke logosentris membawa implikasi yang tidak kecil. Alam dengan segala-galanya, yang selama ini ditakuti kemudian didekati dan bahkan di eksploitasi. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hokum-hukun alam dan teori ilmiah yang menjelaskan perubahan yang terjadi, baik didalam jagat raya (makrokosmos) maupun alam manusia (mikrokospos) dari penelitian alam jagad raya bermunculan ilmu astronomi, kospologi, fisika kimia dan sebagainya, sedangkan dari manusia muncul ilmu biologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya. Ilmu-ilmu tersebut kemudian menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya.
Pada perkembangan selanjutnya, ilmu dibagi dari berbagai disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Pada gilirannya, cabang ilmu semakin kabur dengan segala variasinya, namun tidak dapat juga dipungkiri bahwa ilmu yang terspesialisasi itu semain menambah sekat-sekat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, sehingga muncul arogansi ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Tidak hanya itu saja tapi yang terjadi adalah terpisahnya ilmu dengan nila luhur ilmu, yaitu untuk mensejahterakan umat manusia. Bahkan tidak mustahil terjadi, ilmu menjadi bencana bagi kehidupan manusia, seperti pemanasan global dan dehumanisasi.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa satu sisi ilmu berkembang dengan pesat, di sisi lain, timbul kekhawatiran yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu itu karena tidak ada seorang pun atau lembaga yang memiliki otoritas untuk menghambat implikasi negatif dari  ilmu. John Naisbitt mengatakan bahwa era informasi menimbulkan gejala mabuk teknologi, yang ditandai dari beberapa indikator, yaitu : (1) Masyarakat lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi. (2) Masyarakat takut dan sekaligus memuja teknologi. (3) masyarakat mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu. (4) Masyarakat menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar. (5) masayarakat mencintai bentuk teknologi dalam bentuk mainan. (6) Masyarakat menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut. [1]
Ilmu dan teknologi dalam konteks itu kehilangan ruhnya yang fundamental karena ilmu kemudian mengeliminir peran manusia dan bahkan manusia menjadi budak ilmu dan teknologi. Katrna itu filsafat ilmu berusaha mengembalikan ruh dan dan tujuan luhur ilmu agar ilmu tidak menjadi boomerang bagi kehidupan umat manusia. Disamping itu tujuan filsafat ilmu adalah  untuk menegaskan bahwa ilmu dan teknologi adalah instrument bukan tujuan. [2]




B.     ILMU DAN FILSAFAT
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong  untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterun terang kepada diri kita sendiri: Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu ? Apakah cirri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dan pengetahuan-pengetahuan lain yang bukan ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu?[3]
Demikian juga berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui: Apakah ilmu tersebut telah mencangkup segenap yang seyogyanya saya ketahui dalam kehidupan ini? Dibatas manakah ilmu mulai dan dibatas manakah dia berhenti?  Kemanakah saya harus berpaling dibatas ketidaktahuan ini? Apakah kelebihan dan kekurangan ilmu? (mengetahui kekurangan bukan berarti merendahkanmu, namun secara wajar memanfaatkan, untuk terlebih jujur dalam memanfaatkanmu.




C.    HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN EKONOMI
Filafat Peneratas Pengetahuan
Filsafat, meminjam pemikiran Will Durant,[4] dapat di ibaratkan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan Infenteri adalah sebagai pengetahuan diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang menenagkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu ilmuan yang membelah gunung dan merambah hutan. menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Setelah menyerahkan dilakukan maka filsafat pun pergi. Dia kembali menjelajah laut lepas, berspekulasi dan meneratas. Seorang yang skeptis akan berkata: sudah lebih dari dua ribu tahun orang berfilsafat namun selangkahpun dia tidak maju. Sepintas lalu kelihatannya memang demikian dan kesalahpahaman ini dapat segera dihilangkan, sekiranya kita sadar bahwa berfilsafah adalah marinir yang merupakan pionir, bukan pengetahuan yang bersifat merinci. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Semua ilmu, baik ilmu alam maupun ilmu social, bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat. Issac Newton (1642-1627) menulis hukum-hukum fisikanya sebagai philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) dan adam smith (1723-1790) bapak imu ekonomi menulis buku The Wealth of Nations (1776) dan fungsinya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow.
Nama Asal fisika adalah filsafat alam (natural phisolophy) dan nama asal ekonomi adalah Filsafat Moral (moral phisolophy). Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu maka terdapat taraf peralihan. Dalam taraf peralihan ini maka bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh melainkan sektoral.Di sini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan melainkan diakitkan dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Walaupun demikian dalam taraf ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma-norma filsafat. Umpamanya ekonomi masih merupakan penerapan etika (applied ethis) dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai normative dan deduktif  berdasarkan asas-asa moral yang filsafati. Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan mendasarkan sepenuhnya kepada hakekat alam sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan ilmu masih mendasarkan kepada norma yang seharusnya, sedangkan tahap terakhir ini, ilmu berdasarkan penemuan alamiah sebagaimana adanya. Dalam menyusun pengetahuan tentang alam dan isinya ini maka manusia tidak lagi menggunakan metode yang bersifat normative dan deduktif melainkan kombinasi antara deduktif dan induktif dengan jembatan yang berupa pengajuan hipotesis yang dikenal sebagai metode logico-hyphotethico-verifikatif. Tiap ilmu dimuali dengan filsafat dan diakhiri dengan seni ujar Will Durant, muncul dalam hipotesis dan berkembang keberhasilan.
Seorang professor yang penuh humor mendekat permasalahan yang dikaji filsafat dengan sajak dibawah ini:
What is a man?
What is?
What ?
Maksudnya adalah bahwa pada tahap mula sekali, filsafat mempersoalkan siapa manusia itu : Hallo, Siapa kau tahap ini dapat dihubungkan dengan segenap pemikiran ahli-ahli filsafat sejak jaman yunani kuno sampai sekarang yang rupa-rupanya tak kunjung selesai mempermasalahkan makhluk yang satu ini. Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama ilmu social mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya.[5]

Mungkin ada baiknya kita ambil contoh yang agak berdekatan yakni ilmu ekonomi dan manajemen. Kedua ilmu ini mempunyai asumsi tentang manusia yang berbeda. Ilmu ekonomi mempunyai asumsi bahwa manusia adalah makhluk ekonomi yang bertujuan mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan menjauhi ketidaknyamanan sebisa mungkin. Dia adalah makhluk hedonis yang serakah atau dalam posisi ilmiah: mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya. Sedangkan Ilmu Manajemen mempunyai asumsi lain tentang manusia sebab bidang telaah ilmu manajeman lain dengan ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi bertujuan menelaah hubungan manusia dengan benda/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan manajemen bertujuan menelaah kerja sama atar sesama manusia dalam mencapai satu tujuan yang disetujui bersama. Cocoklah asumsi bahwa manusia adalah Homo economicus bagi manajemen yang tujuannya menela’ah kerjasama antarmanusia? Apa motif ekonomis yang mendorong seseorang untuk menjadi sukarelawan memberantas kemiskinan dan kebodohan ? tentu saja tidak, bukan dan untuk itu manajemen mempunyai sebuah asumsi tentang manusia tergantung dari perkembangan dan lingkungan masing-masing seperti makhluk ekonomi, makhluk social dan makhluk aktualisasi diri. Mengkaji masalah manajemen dengan asumsi manusia dalam kegiatan ekonomis akan menyebabkan kekacauan dalam analisis yang bersifat akademik. Demikian pula mengkaji masalah ekonomi dengan asumsi manusia yang lain diluar makhluk ekonomi. (katakanlah makhluk social seperti asumsi dalam manajemen) akan menjadikan ilmu ekonomi menjadi moral, terapan, mundur, sekian ratus tahun ke abad pertengahan. Sayang bukan? The Right (assumption of) man of the right place; mungkin kalimat ini harus kita gantung ditiap pintu masing-masing disiplin ilmuan.[6]



DAFTAR PUSTAKA
S.Suriasumantri, Jujun., FILSAFAT ILMU Sebuah Pengatar Populer, Jakarta:CV. Muliasari, cet.14, 2001.
Prof. Dr. Amsal Bahtiar, M.A., Filsafat Ilmu, Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, cet.11, 2012.



[1] John Naisbitt et. All., High Tech High Touch. (terj.), (Jakarta: Pustaka Mizan), 2002. Hlm. 23-24.
[2] Prof. Dr. Amsal Bahtiar, M.A. Filsafat Ilmu, 2012, cet.11 (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada. Bag.PENDAHULUAN.
[3] S. Suriasumantri, Jujun., FILSAFAT ILMU (Sebuah pengantar Populer), (JAKARTA: C.V. Muliasari) 1995.cet.9. Hal. 19.
[4] William Shakespeare, hamlet, Babak.1, adegan 1.
[5] Jujun S.suriasumantri., flsafat ilmu sebuah pengantar popular, Hal.22-27
[6] Ibid., Hal.27.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar