Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas akhir
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Dosen Pembimbing :
Maretha Ika Prajanati,SE,MM.
Disusun Oleh:
CHOIRINA (12510038)
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
JUNI 2014
ARTIKEL
Details
Published Date
Jakarta, 21
November 2012 - Dengan pertumbuhan Investasi Asing Langsung (FDI) sebesar 22%
ke dalam perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga (Q3) tahun 2012, IDC
memperkirakan bahwa dampak spill-over terhadap ICT sengaja diatur
untuk berlanjut di Tahun 2013. Belanja TI negara diperkirakan akan mencapai US
$ 15 miliar pada akhir tahun 2012, didorong secara signifikan oleh pertumbuhan
pengeluaran untuk perangkat klien, dan layanan TI.
Pangsa pasar
yang dipengaruhi konsumen, IDC mengharapkan perusahaan membelanjakan belanja TI
di seluruh kunci vertikal seperti Manufaktur dan Ritel akan meningkat selama
tahun depan, sebagai persyaratan utama untuk integrasi, komunikasi dan
mobilitas terus menyebabkan CIO untuk berpikir ulang kebijakan ICT dan
strategi. "Sebagai CIO mulai berpikir tentang bagaimana TIK dapat menjadi
transformator kunci dalam perusahaan mereka untuk mencapai tujuan bisnis, kami
berharap minat yang tinggi di bidang Jasa Datacenter, Cloud, dan Mobilitas untuk
mengambil tengah panggung pada 2013", kata Sudev Bangah, Kepala Operasi
IDC Indonesia.
Continuum IDC
Survei tahun 2012 atas perusahaan Indonesia mengungkapkan bahwa lebih dari 53%
dari mereka yang disurvei memanfaatkan IT lebih agresif untuk bergerak ke masa
depan, dengan lebih dari 30% dari mereka secara keseluruhan mengurangi
pengeluaran infrastruktur TI. Sementara belanja hardware diperkirakan akan
terus berlanjut, bagaimanapun, awal dari pergeseran pola pikir terhadap
pelayanan outsourcing berada pada titik eksplorasi penting.
Pada dasarnya,
IDC mengharapkan belanja TI di negara berkembang sejalan dengan pertumbuhan
PDB, dengan Indonesia terus memimpin semua negara ASEAN. Sebagai pra-kursor
hingga 2013 Prediksi IDC Indonesia, IDC hari ini mengungkapkan 5 bidang utama
yang akan membentuk cara teknologi diperhatikan pada tahun 2013;
Belanja ICT vertikal untuk Meningkatkan titik ini, IDC telah menyaksikan peningkatan pengeluaran IT di vertikal utama. Sementara FSI & Sumber Daya yang "khas" pemboros IT, bagaimanapun, Ritel dan Manufaktur tetap berada dalam sorotan Datacenter Services - IDC mengharapkan bunga dan penyerapan DC dan Managed Services terjadi secara dramatis, dengan Cloud memimpin jalan melalui pemahaman lebih lanjut tentang ROI dari investasi.
Belanja ICT vertikal untuk Meningkatkan titik ini, IDC telah menyaksikan peningkatan pengeluaran IT di vertikal utama. Sementara FSI & Sumber Daya yang "khas" pemboros IT, bagaimanapun, Ritel dan Manufaktur tetap berada dalam sorotan Datacenter Services - IDC mengharapkan bunga dan penyerapan DC dan Managed Services terjadi secara dramatis, dengan Cloud memimpin jalan melalui pemahaman lebih lanjut tentang ROI dari investasi.
"Start-up"
Gerakan - IDC mengharapkan peningkatan tinggi dari investasi di teknologi
start--up, di mana investor ekuitas akan mulai mencari "hal besar
berikutnya"
Terjadinya Diskusi BYOD - Dengan peluncuran Windows 8, dan proliferasi lanjutan dari perangkat mobile, garis antara perusahaan dan perangkat konsumen yang kabur, menyebabkan diskusi lebih lanjut tentang tren BYOD yang terjadi dalam perusahaan.
Terjadinya Diskusi BYOD - Dengan peluncuran Windows 8, dan proliferasi lanjutan dari perangkat mobile, garis antara perusahaan dan perangkat konsumen yang kabur, menyebabkan diskusi lebih lanjut tentang tren BYOD yang terjadi dalam perusahaan.
Penaklukan
Timur Indonesia - Sebagai bisnis masih berpusat di sekitar Barat
Indonesia, IDC mengharapkan vendor untuk meningkatkan pencarian mereka dalam
mengidentifikasi daerah-daerah tersebut untuk memanfaatkannya dalam 5 tahun ke
depan.
ANALISIS ARTIKEL
Pertumbuhan ekonomi sebuah Negara
adalah suatu hal yang di ingikan oleh masyarakat Negara tersebut, pertumbuhan
ekonomi juga tidak akan terlepas dari meningkatnya sektor manufaktur dan sektor
perdagangan yang meningkat, sehingga dapat meningkatkan Devisa suatu Negara.
Indonesia yang tergolong Negara berkembang ternyata dalam artikel diatas pertumbuhan Investasi Asing Langsung (FDI)
mampu menembus angka sebesar 22% ke dalam perekonomian Indonesia, hal
inilah yang memicu naiknya Belanja TI Negara
diperkirakan akan mencapai US $ 15 miliar pada akhir tahun 2012, didorong
secara signifikan oleh pertumbuhan pengeluaran untuk perangkat klien, dan
layanan TI.
Menurut
kami meningkatnya sektor belanja TI ini cukup besar dimana Indonesia sendiri
adalah tergolong Negara yang dibilang masih berkembang, tapi tidak menutup
kemungkinan ketika pertumbuhan perekonomian Negara itu meningkat harus di
imbangi dengan perkembangan ICT nya, ini juga dikarenakan ICT sangat
berpengaruh di dalam membantu mempermudah suatu pekerjaan apalagi dengan adanya
globalisasi dan perdagangan bebas seperti ini, Indonesia juga harus mampu
menangkap perkembangan dunia modern dan mau tidak mau harus menjadi pelaku
didalamnya kalau tidak mau kalah dan dikatakan tertinggal.
Hal di atas terbukti benar adanya
karena dalam suatu berita yang membahas tentang Peran Penting ICT dalam
Konektivitas dan Mendukung Pertumbuhan Ekonomi oleh APEC di Nusa Dua Bali
Selasa, 8 Oktober 2013. Pada pertemuan ini telah membuahkan 7 poin kesepakatan
APEC 2013. Salah satunya adalah “Poin penting lain yang menjadi sorotan
pertemuan puncak para pemimpin APEC ini ialah upaya peningkatan partisipasi
usaha mikro, kecil dan menengah, pengusaha muda dan perempuan pengusaha dalam
pembangunan ekonomi. Konektivitas menjadi hal penting bukan saja bagi Indonesia
untuk menghubungkan 240 juta penduduknya namun juga bagi seluruh populasi di 20
entitas ekonomi negara APEC lainnya. Di sinilah teknologi informasi dan
komunikasi memainkan peran paling krusial, disamping sebagai enabler
connectivity maupun pemicu pertumbuhan ekonomi yang
merata (inclusive growth). Kemajuan
pembangunan infrastruktur ICT (information and communication technology) saat
ini telah menjadi tolok ukur bagi perkembangan perekonomian suatu kawasan. Bank
Dunia pada laporannya di tahun 2009 bertajuk “Extending Reach and Increasing Impact
Information and Communication Technology for Development” menyebutkan
bahwa berdasarkan anlisa ekonometri dari pertumbuhan telepon tetap (fixed
line), telepon selular, internet dan broadband di
120 negara sejak tahun 1980 hingga 2006 telah menunjukkan bahwa peningkatan
penetrasi broadband sebesar 10% di suatu
negara mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38% pada negara berkembang dan
1,21% pada negara maju”.
Keselarasan antara artikel diatas
yang membahas tentang peran ICT bagi pertumbuhan Ekonomi oleh EDC dengan
artikel yang membahas tentang APEC di Nusa Dua Bali yang dikatakan dapat
meningkatkan atau mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38% pada negara
berkembang dan 1,21% pada negara maju, ini adalah suatu bukti yang nyata bahwa
ICT memang benar-benar berpengaruh terhadap pertumbuhan Ekonomi suatu Negara.
Dan jika dalam artikel diatas
dijelaskan bahwa Belanja TI negara diperkirakan akan mencapai US
$ 15 miliar pada akhir tahun 2012, didorong secara signifikan oleh pertumbuhan
pengeluaran untuk perangkat klien, dan layanan TI, hal ini sangat wajar ketika
TI benar-benar terbukti telah mampu membawa dampak terhadap pertumbuhan
perekonomian. Kalau keberadaan TI tidak berpengaruh maka tidak selayaknya
belanja TI mencapai US $ 15 miliar pada akhir tahun 2012, peran pemerintah
sebagai control disini sangat diperlukan. Tetapi buktinya telah ada maka hal
tersebut menurut kami bagus bahkan dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi
Indonesia meskipun dampak negatif yang dibawa juga banyak, dan menurut kami
ketika kita dapat mempergunakan TI sebagaimana mestinya, TI tidak akan menjadi
bumerang kepada kita malah TI akan sangat membantu kita dalam kelancaran usaha
yang kita laksanakan.
Contoh lainnya tentang peran ICT
terhadap Ekonomi adalah dalam peran konektivitas di kawasan, sejak tahun 2012
Telkom telah memiliki program yang diberi nama Indonesia Digital Network (IDN)
2015, yaitu pembangunan jaringan broadband di seluruh kepulauan nusantara.
Program yang menjadi Mahakarya Telkom ini merupakan jawaban atas tekad untuk
mendukung pembangunan mega infrastruktur Master Plan Percepatan Pembangunan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah dicanangkan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pada tahun 2011.
Dalam program Mahakarya IDN 2015 ini, pembangunan broadband dibagi
dalam 3 aspek yaitu pembangunan jaringan infrastruktur optical
backbone yang dikenal dengan program ID Ring,
pembangunan jaringan akses melalui wifi.id yang dikenal dengan program ID
Access, serta pengembangan jaringan multi
services danmulti screen terintegrasi yang
diberi nama ID Convergence. Diperkirakan,
program yang ditargetkan selesai pada tahun 2015 ini dapat menyediakan 1 juta akses
wifi serta menghadirkan akses internet broadband dengan kecepatan 20 Mbps
hingga 100 Mbps bagi 30% rumah tangga di Indonesia guna melayani sebanyak 20
juta pelanggan. Dalam program IDN 2015 ini, dihadirkan pula layanan-layanan
yang diperuntukkan bagi komunitas masyarakat di Indonesia sebagai fungsi
edukatif, financial dan entrepreneurial melalui IndiSchool (komunitas sekolah),
IndiFinance (komunitas perdagangan) dan IndiPreneur (komunitas UMKM).
Program-program ini mendukung pemanfaatan layanan ICT yang lebih bersifat
implementatif sehingga akan membantu masyarakat untuk lebih mudah mangambil
manfaat dari ketersediaan konektifitas yang telah disediakan. Hal ini tak lain
adalah guna memudahkan semua kalangan dalam mencari dan berbagi informasi yang
sangat penting bagi bertumbuhnya perekonomian di seluruh lapisan masyaraka.[1]
Meskipun contoh diatas lebih
mengarah kepada masyarakat tetapi hal ini juga mampu mendorong dan meningkatkan
pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Pengaruh investasi ICT bukan hanya dibahas
dalam artikel diatas tetapi juga dibahas dalam sebuah kajian pada Apr 23, 2013
“FGD Kajian Pengaruh Investasi ICT Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di
Indonesia
Jakarta- Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika dan
Informasi dan Komunikasi Publik (Puslitbang APTIKA dan IKP), Kamis (11/3),
menyelenggarakan FGD “Kajian Pengaruh Investasi ICT Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi di Indonesia.” Pertemuan kali ini khusus membahas ICT sector,
ICT service,
manufacturing
ICT, kebutuhan data Manufacturing ICT, dan Kebutuhan
data ICT services
dalam bidang produksi, export, pemakaian input, dan
perubahan inventory
dan investasi. Sedangkan kendala untuk menghitung kontribusi Teknologi
Informatika dan Komunikasi (TIK) terhadap pertumbuhan ekonomi, diantaraya,
ketersediaan data TIK yang ada.
FGD “Kajian Pengaruh Investasi ICT Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di
Indonesia” dibuka oleh Ibu Septriana Tangkary selaku Kepala Puslitbang APTIKA
dan IKP, yang dihadiri oleh para pejabat eselon III dan IV, dan para peneliti beserta
staf di lingkungan Balitbang Kominfo, dengan Narasumber Prof. Dr.Kalamullah
Ramli, Dr.Djoni Hartono, Dr.Hary Budiarto, dan Dr.Fritz Horas Silalahi.
Djoni Hartono, Dosen Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Ekonomi
(PPFIE) Universitas Indonesia, mengatakan Tabel Input – Output (IO) dari Badan
Pusat Statistik (BPS) dapat menggunakan data tahun 2010 dengan Klasifikasi Baku
Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) dapat di compare dengan versi Organisasi
untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD – Organization for Economic Co-operation and
Development). Dalam sektor ICT manufacturing, nilai IO bisa
didapat dari statistik besar dan sedang. “Sayangnya, saat ini data untuk
industri kecil belum ada, dan BPS belum mempublikasikan data tabel IO tahun
2010,” ungkap dosen Ilmu Ekonometri tersebut.
Hary Budiarto, Kepala Pusat Data Informasi dan Standarisasi BPPT,
menambahkan BPPT telah menerbitkan ICT indikator tahun 2000 – 2010, dan menjadi
ICT outlook
Indonesia pada tahun 2011. “Kami bekerjasa sama dengan BPS dalam mengumpulkan
data mengenai definisi ICT menurut OECD, namun fokusnya ke pendapatan rumah
tangga,” ujar pakar Multimedia tersebut.
Sementara, Fritz Horas Silalahi, Direktur Perencanaan Infrastruktur
BKPM, menyampaikan kebijakan Viability Gap Fund (VGF), kebijakan
tax
holiday dan tax allowance yang dapat mendukung
perkembangan ICT di Indonesia. “Ada juga kebijakan alokasi resiko, namun belum
termasuk dalam sektor ICT. Jika dimasukkan, dapat meningkatkan pembangunan
infrastruktur ICT,” ujar Dir. Perencanaan Infrastruktur BKPM tersebut.
Kalamullah Ramli, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi, KemKominfo,
menyarankan untuk mendapatkan data dari para pelaku industri telko yang
berinvestasi besar di software serta dari Federasi
Teknologi Informasi Indonesia (FTII). “Investasi ICT pada akses data oleh
perusahaan telko sudah sangat besar, namun belum maksimal keuntungannya,
sehingga mempengaruhi Average Revenue Per User (ARPU).
Investasi data center, dan ekonomi kreatif juga perlu diperhitungkan”, ungkap
Dosen Fakultas Teknik UI tersebut. (NM)[2]
Jadi kesimpulannya
adalah TI benar-benar mampu membantu memperlancar usaha suatu masyarakat di
Indonesia dengan bukti data-data yang telah kami paparkan diatas dan ketika
Investasi TI meningkat itu adalah hal yang seharusnya terjadi, dan kami
mendukung tentang adanya Investasi TI di Indonesia sejauh Investasi TI itu
memberikan hal yang positif dan benar-benar mampu membantu sektor perekonomian
di Indonesia. Tetapi Investasi TI ini juga harus selalu di control sehingga investasi
yang dilakukan sejalan dengan tujuan Negara Indonesia. Maka disinilah peran
pemerintah seharusnya diperlukan sehingga investasi TI ini Efektif dan juga
efisien.
DAFTAR RUJUKAN
http://balitbang.kominfo.go.id/balitbang/aptika-ikp/2013/04/23/fgd-kajian-pengaruh-investasi-ict-terhadap-pertumbuhan-ekonomi-di-indonesia/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar