Sabtu, 03 September 2016

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas akhir
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN


Dosen Pembimbing :
Maretha Ika Prajanati,SE,MM.





Disusun Oleh:

CHOIRINA                            (12510038)



JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
JUNI 2014




ARTIKEL
Details
Published Date
Jakarta, 21 November 2012 - Dengan pertumbuhan Investasi Asing Langsung (FDI) sebesar 22% ke dalam perekonomian Indonesia pada kuartal ketiga (Q3) tahun 2012, IDC memperkirakan bahwa dampak spill-over  terhadap ICT  sengaja diatur untuk berlanjut di Tahun 2013. Belanja TI negara diperkirakan akan mencapai US $ 15 miliar pada akhir tahun 2012, didorong secara signifikan oleh pertumbuhan pengeluaran untuk perangkat klien, dan layanan TI.
Pangsa pasar yang dipengaruhi konsumen, IDC mengharapkan perusahaan membelanjakan belanja TI di seluruh kunci vertikal seperti Manufaktur dan Ritel akan meningkat selama tahun depan, sebagai persyaratan utama untuk integrasi, komunikasi dan mobilitas terus menyebabkan CIO untuk berpikir ulang kebijakan ICT dan strategi. "Sebagai CIO mulai berpikir tentang bagaimana TIK dapat menjadi transformator kunci dalam perusahaan mereka untuk mencapai tujuan bisnis, kami berharap minat yang tinggi di bidang Jasa Datacenter, Cloud, dan Mobilitas untuk mengambil tengah panggung pada 2013", kata Sudev Bangah, Kepala Operasi IDC Indonesia.
Continuum IDC Survei tahun 2012 atas perusahaan Indonesia mengungkapkan bahwa lebih dari 53% dari mereka yang disurvei memanfaatkan IT lebih agresif untuk bergerak ke masa depan, dengan lebih dari 30% dari mereka secara keseluruhan mengurangi pengeluaran infrastruktur TI. Sementara belanja hardware diperkirakan akan terus berlanjut, bagaimanapun, awal dari pergeseran pola pikir terhadap pelayanan outsourcing berada pada titik eksplorasi penting.
Pada dasarnya, IDC mengharapkan belanja TI di negara berkembang sejalan dengan pertumbuhan PDB, dengan Indonesia terus memimpin semua negara ASEAN. Sebagai pra-kursor hingga 2013 Prediksi IDC Indonesia, IDC hari ini mengungkapkan 5 bidang utama yang akan membentuk cara teknologi diperhatikan pada tahun 2013;
Belanja ICT vertikal untuk Meningkatkan titik ini, IDC telah menyaksikan peningkatan pengeluaran IT  di vertikal utama. Sementara FSI & Sumber Daya yang "khas" pemboros IT, bagaimanapun, Ritel dan Manufaktur tetap berada dalam sorotan Datacenter Services - IDC mengharapkan bunga dan penyerapan DC dan Managed Services terjadi secara dramatis, dengan Cloud memimpin jalan melalui pemahaman lebih lanjut tentang ROI dari investasi.
"Start-up" Gerakan - IDC mengharapkan peningkatan tinggi dari investasi di teknologi start--up, di mana investor ekuitas akan mulai mencari "hal besar berikutnya"
Terjadinya Diskusi BYOD - Dengan peluncuran Windows 8, dan proliferasi lanjutan dari perangkat mobile, garis antara perusahaan dan perangkat konsumen yang kabur, menyebabkan diskusi lebih lanjut tentang tren BYOD  yang terjadi dalam perusahaan.
Penaklukan  Timur Indonesia  - Sebagai bisnis masih berpusat di sekitar Barat Indonesia, IDC mengharapkan vendor untuk meningkatkan pencarian mereka dalam mengidentifikasi daerah-daerah tersebut untuk memanfaatkannya dalam 5 tahun ke depan.
















ANALISIS ARTIKEL
Pertumbuhan ekonomi sebuah Negara adalah suatu hal yang di ingikan oleh masyarakat Negara tersebut, pertumbuhan ekonomi juga tidak akan terlepas dari meningkatnya sektor manufaktur dan sektor perdagangan yang meningkat, sehingga dapat meningkatkan Devisa suatu Negara. Indonesia yang tergolong Negara berkembang ternyata dalam artikel diatas  pertumbuhan Investasi Asing Langsung (FDI) mampu menembus angka sebesar 22% ke dalam perekonomian Indonesia, hal inilah  yang memicu naiknya Belanja TI Negara diperkirakan akan mencapai US $ 15 miliar pada akhir tahun 2012, didorong secara signifikan oleh pertumbuhan pengeluaran untuk perangkat klien, dan layanan TI.
Menurut kami meningkatnya sektor belanja TI ini cukup besar dimana Indonesia sendiri adalah tergolong Negara yang dibilang masih berkembang, tapi tidak menutup kemungkinan ketika pertumbuhan perekonomian Negara itu meningkat harus di imbangi dengan perkembangan ICT nya, ini juga dikarenakan ICT sangat berpengaruh di dalam membantu mempermudah suatu pekerjaan apalagi dengan adanya globalisasi dan perdagangan bebas seperti ini, Indonesia juga harus mampu menangkap perkembangan dunia modern dan mau tidak mau harus menjadi pelaku didalamnya kalau tidak mau kalah dan dikatakan tertinggal.
Hal di atas terbukti benar adanya karena dalam suatu berita yang membahas tentang Peran Penting ICT dalam Konektivitas dan Mendukung Pertumbuhan Ekonomi oleh APEC di Nusa Dua Bali Selasa, 8 Oktober 2013. Pada pertemuan ini telah membuahkan 7 poin kesepakatan APEC 2013. Salah satunya adalah “Poin penting lain yang menjadi sorotan pertemuan puncak para pemimpin APEC ini ialah upaya peningkatan partisipasi usaha mikro, kecil dan menengah, pengusaha muda dan perempuan pengusaha dalam pembangunan ekonomi. Konektivitas menjadi hal penting bukan saja bagi Indonesia untuk menghubungkan 240 juta penduduknya namun juga bagi seluruh populasi di 20 entitas ekonomi negara APEC lainnya. Di sinilah teknologi informasi dan komunikasi memainkan peran paling krusial, disamping sebagai enabler connectivity maupun pemicu pertumbuhan ekonomi yang merata (inclusive growth). Kemajuan pembangunan infrastruktur ICT (information and communication technology) saat ini telah menjadi tolok ukur bagi perkembangan perekonomian suatu kawasan. Bank Dunia pada laporannya di tahun 2009 bertajuk “Extending Reach and Increasing Impact Information and Communication Technology for Development” menyebutkan bahwa berdasarkan anlisa ekonometri dari pertumbuhan telepon tetap (fixed line), telepon selular, internet dan broadband di 120 negara sejak tahun 1980 hingga 2006 telah menunjukkan bahwa peningkatan penetrasi broadband sebesar 10% di suatu negara mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38% pada negara berkembang dan 1,21% pada negara maju”.
Keselarasan antara artikel diatas yang membahas tentang peran ICT bagi pertumbuhan Ekonomi oleh EDC dengan artikel yang membahas tentang APEC di Nusa Dua Bali yang dikatakan dapat meningkatkan atau mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 1,38% pada negara berkembang dan 1,21% pada negara maju, ini adalah suatu bukti yang nyata bahwa ICT memang benar-benar berpengaruh terhadap pertumbuhan Ekonomi suatu Negara.
Dan jika dalam artikel diatas dijelaskan bahwa Belanja TI negara diperkirakan akan mencapai US $ 15 miliar pada akhir tahun 2012, didorong secara signifikan oleh pertumbuhan pengeluaran untuk perangkat klien, dan layanan TI, hal ini sangat wajar ketika TI benar-benar terbukti telah mampu membawa dampak terhadap pertumbuhan perekonomian. Kalau keberadaan TI tidak berpengaruh maka tidak selayaknya belanja TI mencapai US $ 15 miliar pada akhir tahun 2012, peran pemerintah sebagai control disini sangat diperlukan. Tetapi buktinya telah ada maka hal tersebut menurut kami bagus bahkan dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia meskipun dampak negatif yang dibawa juga banyak, dan menurut kami ketika kita dapat mempergunakan TI sebagaimana mestinya, TI tidak akan menjadi bumerang kepada kita malah TI akan sangat membantu kita dalam kelancaran usaha yang kita laksanakan.
Contoh lainnya tentang peran ICT terhadap Ekonomi adalah dalam peran konektivitas di kawasan, sejak tahun 2012 Telkom telah memiliki program yang diberi nama Indonesia Digital Network (IDN) 2015, yaitu pembangunan jaringan broadband di seluruh kepulauan nusantara. Program yang menjadi Mahakarya Telkom ini merupakan jawaban atas tekad untuk mendukung pembangunan mega infrastruktur Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2011.
Dalam program Mahakarya IDN 2015 ini, pembangunan broadband dibagi dalam 3 aspek yaitu pembangunan jaringan infrastruktur optical backbone yang dikenal dengan program ID Ring, pembangunan jaringan akses melalui wifi.id yang dikenal dengan program ID Access, serta pengembangan jaringan multi services danmulti screen terintegrasi yang diberi nama ID Convergence. Diperkirakan, program yang ditargetkan selesai pada tahun 2015 ini dapat menyediakan 1 juta akses wifi serta menghadirkan akses internet broadband dengan kecepatan 20 Mbps hingga 100 Mbps bagi 30% rumah tangga di Indonesia guna melayani sebanyak 20 juta pelanggan. Dalam program IDN 2015 ini, dihadirkan pula layanan-layanan yang diperuntukkan bagi komunitas masyarakat di Indonesia sebagai fungsi edukatif, financial dan entrepreneurial melalui IndiSchool (komunitas sekolah), IndiFinance (komunitas perdagangan) dan IndiPreneur (komunitas UMKM). Program-program ini mendukung pemanfaatan layanan ICT yang lebih bersifat implementatif sehingga akan membantu masyarakat untuk lebih mudah mangambil manfaat dari ketersediaan konektifitas yang telah disediakan. Hal ini tak lain adalah guna memudahkan semua kalangan dalam mencari dan berbagi informasi yang sangat penting bagi bertumbuhnya perekonomian di seluruh lapisan masyaraka.[1]
Meskipun contoh diatas lebih mengarah kepada masyarakat tetapi hal ini juga mampu mendorong dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Pengaruh investasi ICT bukan hanya dibahas dalam artikel diatas tetapi juga dibahas dalam sebuah kajian pada Apr 23, 2013 “FGD Kajian Pengaruh Investasi ICT Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia
Jakarta- Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika dan Informasi dan Komunikasi Publik (Puslitbang APTIKA dan IKP), Kamis (11/3), menyelenggarakan FGD “Kajian Pengaruh Investasi ICT Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia.” Pertemuan kali ini khusus membahas ICT sector, ICT service, manufacturing ICT, kebutuhan data Manufacturing ICT, dan Kebutuhan data ICT services dalam bidang produksi, export, pemakaian input, dan perubahan inventory dan investasi. Sedangkan kendala untuk menghitung kontribusi Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) terhadap pertumbuhan ekonomi, diantaraya, ketersediaan data TIK yang ada.
FGD “Kajian Pengaruh Investasi ICT Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia” dibuka oleh Ibu Septriana Tangkary selaku Kepala Puslitbang APTIKA dan IKP, yang dihadiri oleh para pejabat eselon III dan IV, dan para peneliti beserta staf di lingkungan Balitbang Kominfo, dengan Narasumber Prof. Dr.Kalamullah Ramli, Dr.Djoni Hartono, Dr.Hary Budiarto, dan Dr.Fritz Horas Silalahi.
Djoni Hartono, Dosen Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Ekonomi (PPFIE) Universitas Indonesia, mengatakan Tabel Input – Output (IO) dari Badan Pusat Statistik (BPS) dapat menggunakan data tahun 2010 dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) dapat di compare dengan versi Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD – Organization for Economic Co-operation and Development). Dalam sektor ICT manufacturing, nilai IO bisa didapat dari statistik besar dan sedang. “Sayangnya, saat ini data untuk industri kecil belum ada, dan BPS belum mempublikasikan data tabel IO tahun 2010,” ungkap dosen Ilmu Ekonometri tersebut.
Hary Budiarto, Kepala Pusat Data Informasi dan Standarisasi BPPT, menambahkan BPPT telah menerbitkan ICT indikator tahun 2000 – 2010, dan menjadi ICT outlook Indonesia pada tahun 2011. “Kami bekerjasa sama dengan BPS dalam mengumpulkan data mengenai definisi ICT menurut OECD, namun fokusnya ke pendapatan rumah tangga,” ujar pakar Multimedia tersebut.
Sementara, Fritz Horas Silalahi, Direktur Perencanaan Infrastruktur BKPM, menyampaikan kebijakan Viability Gap Fund (VGF), kebijakan tax holiday dan tax allowance yang dapat mendukung perkembangan ICT di Indonesia. “Ada juga kebijakan alokasi resiko, namun belum termasuk dalam sektor ICT. Jika dimasukkan, dapat meningkatkan pembangunan infrastruktur ICT,” ujar Dir. Perencanaan Infrastruktur BKPM tersebut.
Kalamullah Ramli, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi, KemKominfo, menyarankan untuk mendapatkan data dari para pelaku industri telko yang berinvestasi besar di software serta dari Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII). “Investasi ICT pada akses data oleh perusahaan telko sudah sangat besar, namun belum maksimal keuntungannya, sehingga mempengaruhi Average Revenue Per User (ARPU). Investasi data center, dan ekonomi kreatif juga perlu diperhitungkan”, ungkap Dosen Fakultas Teknik UI tersebut. (NM)[2]
            Jadi kesimpulannya adalah TI benar-benar mampu membantu memperlancar usaha suatu masyarakat di Indonesia dengan bukti data-data yang telah kami paparkan diatas dan ketika Investasi TI meningkat itu adalah hal yang seharusnya terjadi, dan kami mendukung tentang adanya Investasi TI di Indonesia sejauh Investasi TI itu memberikan hal yang positif dan benar-benar mampu membantu sektor perekonomian di Indonesia. Tetapi Investasi TI ini juga harus selalu di control sehingga investasi yang dilakukan sejalan dengan tujuan Negara Indonesia. Maka disinilah peran pemerintah seharusnya diperlukan sehingga investasi TI ini Efektif dan juga efisien.

DAFTAR RUJUKAN
http://balitbang.kominfo.go.id/balitbang/aptika-ikp/2013/04/23/fgd-kajian-pengaruh-investasi-ict-terhadap-pertumbuhan-ekonomi-di-indonesia/





[1] http://web.iaincirebon.ac.id/globalnews/peran-penting-ict-dalam-konektivitas-dan-mendukung-pertumbuhan-ekonomi/
[2] http://balitbang.kominfo.go.id/balitbang/aptika-ikp/2013/04/23/fgd-kajian-pengaruh-investasi-ict-terhadap-pertumbuhan-ekonomi-di-indonesia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar