Sabtu, 03 September 2016

PENILAIAN KERJA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Didalam organisasi ataupun perusahaan pasti akan diadakan penilaian knerja, penilaian kinerja merupakan proses yang dilakukan perusahaan dalam mengevaluasi kinerja pekerjaan seseorang. Apabila hal itu dikerjakan dengan benar, maka para karyawan, penyelia meraka mereka, departemen SDM, dan akhirnya perusahaan akan menguntungkan dengan jaminan bahwa upaya para individu karyawan mapu mengkontribusi pada focus strategic dari perusahaan. Namun, penilaian kenirja di pengaruhi oleh kegiatan lain dalam perusahaan dan pada gilirannya mempengaruhi keberhasilan perusahaan. Denganmelakukan kegiatan penilaian kinerja dapat diketahui ketepatan atau ketidak tepatan kegiatan memprediksi kemampuan kerja, berdasarkan nilai-nilai tes dan atau interviu dalam proses rekrutmen dan seleksi.
Pada dasarnya penilaian kinerja dalam sebuah perusahaan itu sangat diperlukan baik untuk mengetahui prektasi karyawan yang selanjutnya akan berhubungan dengan promosi, jenjang karir maupun pemecatan suatu karyawan dalam perusahaan guna mendapatkan SDM yang benar-baner kompetitif dalam bidang pekerjaannya masing-masing sehingga perusahaan dapat mencapai tujuannya dengan baik melalui roda SDM yang handal.
1.2  Rumusan Masalah
1.    Apakah hakekat dan pengertian penilaian kinerja?
2.    Jelaskan tujuan dari penilaian kinerja !
3.    Apa saja manfat dari penilaian kinerja ?
4.    Sebut dan jelaskan pengguanaan dari penilaian kinerja !
5.    Siapa yang mengadakan penilaian kinerja ?
6.    Metode-metode apa saja yang digunakan dalam penilaian kinerja?
7.    Jelaskan masalah masalah yang ada dalam penilaian kinerja!
8.    Bagaimana menjalankan penilaian kinerja yang legal dan efektif?

1.3  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar penulis dan pembaca mengetahui tentang penilaian kinerja suatu perusahaan agar nantinya bisa mengimplementasikan dalam dunia kerja kelak.


BAB II
PENILAIAN KINERJA
2.1  HAKEKAT DAN PENGERTIAN PENILAIAN KINERJA
Hakekat dari Penilaian Kinerja sebagai kegiatan Manajemen SDM adalah proses pengamatan (observasi) terhadap pelaksanaan pekerjaan oleh seorang pekerja.[1] Dari hasil observasi itu dilakukan pengukuran yang dinyatakan dalam bentuk penetapan keputusan mengenai keberhasilan atau kegagalannya dalam bekerja.  Bertolak dari hakekat Penilaian kinerja diatas dapat disimpulkan pengertiannya, yang di rumuskan dalam berbagai versi, yaitu:[2]
a.    Penilaian kerja adalah deskripsi secara sistematis (teratur tentang relevansi antara tugas-tugas yang diberikan dengan pelaksanaannya oleh seorang pekerja.
b.    Penilaian Kinerja adalah usaha mengindentifikasi, mengukur (menilai) dan mengelora (manajemen pekerjaan yang yang dilaksanakan oleh para pekerja (SDM) di lingkungan suatu organisasi/perusahaan.
c.    Penilaian kinerja adalah kegiatan mengidentifikasi pelaksanaan pekerjaan dengan menilai aspek-aspeknya, yang di fokuskan pada pekerjaan yang berpengaruh pada kesuksesan pekerjaan.
d.    Penilaian kinerja adalah kegiatan pengukuran sebagai usaha menetapkan keputusan tentang sukses dan gagal dalam melaksanakan pekerjaan oleh seorang pekerja. Untuk itu diperlukan perumusan standar pekerjaan sebagai pembanding (tolak ukur).
e.    Penilaian prestasi kerja adalah proses evaluasi prestasi atau unjuk kerja pegawai yang dilakukan oleh organisasi atau petusahaan.[3]
Jadi kesimpulannya, penilaian kinerja adalah proses evaluasi seberapa baik karyawan mengerjakan pekerjaan mereka ketika dibandingkan dengan satu set setandar, dan kemudian mengkomunikasikannya kepada karyawan. Dan dapat di juga di sebut sebagai penilaan kariyawan, evaluasi karyawan, tinjauan kinerja, evaluasi kinerja dan penilaian hasil.
2.2  TUJUAN PENILAIAN KINERJA
2.2.1      Tujuan Umum Penilaian Kinerja
Tujuan umum penilaian kinerja adalah[4]
a.    Penilaian kinerja bertujuan untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan para pekerja, dengan memberikan bantuan agar setiap pekerja mewujudkan dan mempergunakan potensi yang dimilikinya secara maksimal dalam melaksanakan misi organisasi / perusahaan melalui pelaksanaan pekerjaan masing – masing.
b.    Penilaian kinerja bertujuan untuk menghimpun dan mempersiapkan informasi bagi pekerja dan para manajer dalam membuat keputusan yang dapat dilaksanakan sesuai dengan bisnis organisasi / perusahaan di tempatnya bekerja. Informasi penting yang didapat hanya dari penilaian kinerja adalah tentang tugas – tugas yang dilaksanakan dan cara melaksanakannya dalam hubungannya dengan usaha mencapai tujuan.
c.    Penilaian kinerja secara umum bertujuan untuk menyusun inventarisasi SDM di lingkungan organisasi / perusahaan, yang digunakan dalam mendesain hubungan antara keinginan pekerja secara individual dengan sasaran organisasi / perusahaan, yang hasilnya harus digunakan untuk menciptakan dan mengembangkan kerjasama antara manajer dan para pekerja. Dengan demikian berarti manajer harus memahami keinginan pekerja secara individual, yang jika mendapat perhatian akan meningkatkan motivasinya dalam melaksanakan tugas – tugasnya.
d.    Penilaian kinerja bertujuan untuk meningkatkan motivasi kerja, yang berpengaruh pada prestasi para pekerja dalam melaksanakan tugas – tugasnya. Dari satu sisi pengetahuan tentang keberhasilannya, akan menjadi motivasi untuk mempertahankan dan bahkan lebih meningkatkannya di masa depan.Dengan kata lain penilaian kinerja bertujuan untuk meningkatkan prestasi kerja SDM.

2.2.2      Tujuan Khusus Penilaian kinerja
Penilaian kinerja sebagai salah satu kegiatan Manajemen SDM, tujuannya hanya akan tercapai bila dimanfaatkn untuk kegiatan lainnya. Srhubungan dengan itu tujuan Khusus Penilaian kinerja adalah sebagai berikut :[5]
a.    Penilaian kinerja merupakan kegiatan yang hasilnya dapat dijadikan dasar dalam melakukan promosi, menghentikan pelaksanaan pekejaan yang keliru, menegakkan disiplin sebagai kepentingan bersama, menetapkan pemberian penghargaan  balas jasa, dan merupakan ukuran dalam mengurangiatau menambah pekerja melalui perencanaan SDM. Dalam hubungan ini secara khusus berarti penilaian kinerja akan menghasilkan berbagai informasi yang dpat digunakan untuk melaksanakan berbagai kegiatan seperti disebutkan diatas.
b.    Penilaian kinerja menghasilkan informasi yang dapat digunakan sebagai criteria dalam membuat tes yang validitasnya tinggi. Dengan kata lain informasi Penilaian Kinerja digunakan untuk keperluan rekrutmen dan seleksi, karena dengan tes yang valis akan diperoleh hasil berupa skor yang dapat digunakan untuk memprediksi kemampuancalon pekerja yang berkualitas. Oleh karena itulah apabila penilaian kinerja tidak dilakukan secara cermat dan teliti, hasilnya tidak dapat dipergunakan dalam membuat tes untuk keperluan seleksi.
c.    Penilaian Kinerj menghasilkan informasi sebagai umpan balik bagi pekerja dalam meningkatkan efisiensi kejanya, dengan memperbaiki kekurangan atau kekeliruannya dalam melaksanakan pekerjaan. Bawahan dapat mempergunakan informasi hasil penilaian kinerja untuk pengembangan diri masing – masing secara individual. Bagi para manajer, penilaian kinerja bawahannya harus dijadikan umpan balik dalam menilai diri sendiri, karena berisi informasi tentang manajemen yang dilaksanakannya di lingkungan unit kerja masing – masing.
d.    Penilaian kinerja berisi informasi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pekerja dalam meningkatkan prestasi kerjanya, baik yang berkenaan dengan keterampilan/keahlian dalam bekerja. Dengan demikian berarti informasi tersebut dapat digunakan untuk menetapkan tujuan dan materi di dalam kurikulum pelatihan tenaga kerja.
e.    Penilaian kinerja memberikan informasi tentang spesifikasi jabatan, baik menurut pembidangnya maupun berdasarkan penjenjangannya dalam struktur organisasi/perusahaan. Diantara masalah – masalah itu terdapata yang hanya menyentuh satu bidang, yang harus diselesaikan menurut jaringan kerja vertical. Disamping itu, mungkin pula terdapat masalah – masalah yang harus diselesakan menurut jaringan hirisontal atau diagonal antara unit yang bidang kerjnya tidak sama, sedangkan jenjangnya mungkin sama dan mungkin pula tidak sama.
f.     Penilaian kinerja yang harus dilakukan oleh manajer atau supervisor dengan atau tanpa kerjasama petugas manajemen SDM terhadap bawahannya, akan menungkatkan komunikatifsebagai usaha mewujudkan hubungan manusiawi yang harmonis antar atasan dan bawahan. Hubungan itu dapat dikembangkan, terutama jika penilaian kinerja dilaksanakan dengan metode interview.

2.3  MANFAAT  PENILAIAN KINERJA
Penilaian kinerja karyawan memiliki manfaat ditinjau dari beragam prespektif pengembangan perusahaan, khususnya manajemen sumber daya manusia, yaitu sebagai berikut :[6]
a.    Perbaikan Kinerja
Umpan balik kinerja bermanfaat bagi karyawan, manajer dan spesialis personal dalam bentuk kegiatan yang tepat untuk memperbaiki kinerja.
b.    Penyelesaian Kopetensi
Penilaian kinerja membantu pengambil keputusan menentukan siapa yang seharusnya menerima peningkatan pembayaran dalam bentuk upah dan bonus yang didasarkan pada system merit.
c.    Keputusan Penempatan
Promosi, Transfer dan penurunan jabatan, biasanya didasarkan pada kinerja masa lalu dan antisipatif, misalnya dalam bentuk penghargaan.
d.    Kebutuhan Penilaian dan Pengembangan
Kinerja buruk mengidikasikan sebuah kebutuhan untuk melakukan pelatihan kembali. Setiap kariawan hendaknya selalu mampu mengembangkan diri.
e.    Perencanaan dan Pengembangan Karier
Umpan balik kinerja membantu proses pengambilan keputusan tentang karier spesifik karyawan.
f.     Defisiensi Proses Penempatan Staf
Baik buruknya kinerja berimplikasi dalam hal kekuatan dan kelemahan dalam prosedur penempatan staf di departemen SDM.
g.    Ketidakakuratan Informasi
Kinerja buruk dapat mengindikasikan kesalahan dalam informasi analisis pekerjaan, rencana SDM, atau hal lain dari system manajemen personal. Hal demikian akan mengarah pada ketidaktepatan dalam keputusan menyewa karyawan, pelatihan dan keputusan konseling.
h.    Kesalahan Rancangan Pekerjaan
Kinerja buruk mungkin sebagai sebuah gejala dari rancangan pekerjaan yang keliru. Lewat penilaian dapat didiagnosis kesalahan-kesalahan tersebut.
i.      Kesempatan Kerja yang Sama
Penilaian kinerja yang akurat yang secara aktual menghitung kaitannya dengan kinerja dapat menjamin bahwa keputusan penempatan internal bukanlah sesuatu yang bersifat diskriminasi.
j.      Tantangan-tantangan Eksternal
Kadang-kadang kinerja dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan pekerjaan, seperti keluarga, finansial, kesehatan atau masalah-masalah lainnya. Jika masalah-masalah tersebut tidak diatasi melalui penilaian, departemen SDMmungkin mampu menyelesaikan bantuannya.
k.    Umpan Balik pada SDM
Kinerja yang baik dan buruk diseluruh organisasi mengindikasikan bagaimana baiknya fungsi departemen SDM diterapkan.
2.4 PENGGUNAAN PENILAIAN KINERJA
Penilaian kinerja karyawan memiliki dua penggunaan yang umum di dalam organisasi dan keduanya bisa merupakan konflik yang potensial. Salah satu kegunaanya adalah mengukur  kinerja untuk tujuan untuk memberikan penghargaan atau dengan kata lain untuk membuat keputusan administratif mengenai karyawan. Promosi atau pemecatan karyawan bias tergantung pada hasil penilaian ini, yang sering membuat hal ini menjadi sulit untuk dilakukan oleh para manajer. Kegunaan yang lainnya adalah untuk pengembangan potensi individu. Pada kegunaan ini peran manajer ditampilkan dengan peran lebih sebagai sorang konselor dari pada seorang hakim, dan admosvernya sering kali berbeda. Penekanannya adalah pada mengidentifikasikan potensi dan perencanaan terhadap arah dan  kesempatan pertumbuhan karyawan. [7]
2.4.1 Penggunaan Administratif
Sistem penilaian kinerja kadangkala merupakan hubungan antara penghargaan yang diharapkan oleh karyawan dengan produktivitas yang dihasilkan mereka. Hubungan ini diperkirakan sebagai berikut :
Produktivitas           penilaian kinerja               penghargaan
            Peran manajer secara historis adalah sebagai evaluator dari kinerja bawahan, yang kemudian mengarah pada rekomendasi kompensasi karyawan atau keputusan lainnya. Jika ada proses ini yang gagal, di mana karyawan yang paling produktif tidak menerima imbalan yang lebih besar, akan menyebabkan timbulnya persepsi akan adanya ketidakadilan di dalam kompensasi karyawan. Penggunaan penilaian kinerja karyawan untuk menetapkan besar gaji adalah sangat umum. Penggunaan administrative lainnya dari penilaian kinerja adalah seperti keputusan untuk promosi, pemecatan, pengurangan, dan penugasan pindah tugas, yang sangat penting untuk para karyawan.

Penilaian Kinerja
2.4.2 Penggunaan untuk Pengembangan
Penilaian kinerja dapat menjadi sumber informasi utama dan umpan balik untuk karyawan, yang merupakan kunci bagi pengembangan di masa mendatang. Dimana melalui umpan balik atasan dapat member tahu karyawan mengenai kemajuan mereka, mendiskusikan keterampilan apa yang perlu dikembangkan, dan melaksanakan perencanaan pengembangan.
Tujuan umpan balik pengembangan adalah untuk mengubah atau mendorong  tingkah laku seseorang, bukannya untuk membandingkan individu – individu. Fungsi  pengembangan dari penilaian kinerja juga dapat mengidentifikasikan karyawan mana yang ingin berkembang. Sebagai contoh, di dalam wawancara penilaian kinerja yang ditargetkan secara khusus untuk pengembangan, seorang karyawan menemukan bahwa satu-satunya factor yang menghambat untuk menduduki posisi manajemen adalah pengetahuannya mengenai akuntansi biaya. Atasannya menyarankan kepada karyawan itu untuk mengambil kursus malam di sebuah akademi lokal.[8]
2.5 SIAPA YANG MENGADAKAN PENILAIAN?
Penilaian kinerja dapat dilaksanakan oleh siapa saja yang paham benar tentang penilaian karyawan secara individual. kemungkinannya antara lain :[9]
2.5.1 Penilaian Bawahan oleh Atasan
Penilaian karyawan oleh atasan secara tradosional didasarkan atas asumsi bahwa atasan langsung adalah orang yang berkualitas untuk mengevaluasi kinerja karyawan secara realistis, objektif dan adil. Pada akhirnyaa, para atasan membuat catatan kinerja yang dilakukan karyawan. Catatan ini memberikan contoh yang spesifik ketika melakukan penilaian. Catatan berikut juga berguna untuk mengingatkan kembali, karena atasan tidak dapat mengharapkan ingantan secara rinci untuk knerja diatas periode enam bulan atau satu tahun. Penilaian atasan secara khusus dilihat oleh bos manajer untuk meyakinkan bahwa pekerjaan penilaian yang tepat telah dilakukan.
2.5.2 Penilaian Atasan oleh Bawahan
Konsep dari pada atasan dan manajer yang dinilai oleh karyawan atau anggota kelompok saat ini sedang digunakan di sebagian organisasi. Slah satu contoh utama dari jenis penilaian ini terjadi di akademi, atau di perguruan tinggi, di mana para mahasiswa mengeveluasi kinerja dari para dosen di dalam kelas. Industri juga menggunakan karyawannya untuk tujuan pengembangan manajemen.
2.5.3 Penilaian Kelompok / Rekan Kerja
Penilaian rekan kerja khususnya berguna disaat atasan tidak memiliki kesempatan untuk mengopservasi setiap kegiatan karyawan, tetapi rekan kerja kelompok melakukannya. Bisa jadi penilaian kelompok atau penilaian rekan kerja paling baik digunakan untuk tujuan pengembangan dari pada tujuan administratif.
2.5.4 Penilaian Diri Sendiri
Penilaian diri sendiri dilakuakan dalam beberapa kondisi tertentu. Intinya, hal ini merupakan alat pengembangan diri yang memaksa karyawan untuk memikirkan kekuatan dan kelemahan mereka dan menetapkan tujuan untuk pengembangan. Jika karyawan bekerja secara terisolasi dengan suatu keterampilan yang unik, si karyawan bias menjadi satu-satunya yang memiliki kualifikasi untuk menilai diri mereka sendiri. Meskipun demikian, karyawan mungkin tidak menilai diri mereka sendiri sebagaimana para atasan menilai mereka., mereka mungkin menggunakan standar yang agak berbeda.
2.5.5 Penilai dari Luar
Para ahli dari luar mungkin dipanggil untuk meninjau hasil kerja seorang pimpinan akademi. Pihak dari luar mungkin akan melengkapi para manajer ini dengan dukungan professional dalam membuat penilaian. Pihak luar bias jadi tidak mengetahui keseluruhan kontingensi di dalam organisasi. Sebagai tambahan, penilai pihak luar akan memakan waktu dan mahal.

Manajer
2.5.6 Penilaian Multisumber

Konsumen

Rekan kerja

Bawahan

Orang yang dinilai

Evaluasi mandiri
 











Metode Penilaian Kinerja


Metode Penilaian Kinerja

Metode Penilaian Kategori
·         Skala Penilaian Grafik
·         Daftar Periksa

Metode Tujuan /Perilaku
·         Pendekatan Penilaian
·         Management by Objectives (MBO)

Metode Perbandingan
·          Peringkat
·         Distribusi Normal

Metode Naratif
·         Kejadian Kritis
·         Esai
·         Tinjauan Lapangan
 














Umpan balik multisumber ini menyadari bahwa manajer tidak lagi sebagai sumber satu – satunya untuk informasi penilaian kinerja. Sebaliknya, umpan balik dari berbagai kolega dan konstitusi tadi dikumpulkan dan kemudian diberikan kepada manajer, untuk kemudian membantu manajer membentuk umpan balik yang diperoleh dari seluruh sumber tadi.Manajer tetap menjadi titik pusat baik dalam menerima seluruh umpan baik untuk pertama kali dan untuk mengadakan tindak lanjut (follow up ) yang tepat.
Umpan balik multisumber sudah dianggap bermanfaat bagi mereka yang terlibat di dalamnya, tetapi tindak lanjut terhadap aktivitas pengembangan karyawan yang digambarkan dari umpan balik tersebut ditemukan sebagai suatu factor yang paling kritis di dalam pengembangan keterampilan manajerial di masa mendatang. Kayawan yang di nilai biasanya bersifat suportif dalam menerima penilaian bawahan jika mereka menerima umpan balik dari keduanya, yaitu baik dari para manajer maupun bawahan mereka. Akan tetapi, antusiasme atasan terhadap penilaian dari bawahan akan menurun jika penilaian ini di kaitkan dengan penentuan gaji.
2.6  METODE-METODE PENILAIAN KINERJA
2.6.1 Metode Penilaian Kategori
Metode penilaian kategori meminta manajer member nilai untuk tingkat-tingkat kinerja karyawan dalam formulir khusus yang dibagi dalam kategori-kategori kinerja. skala penilaian grafik dan daftar periksa (checklist) yang merupakan cara umum dalam metode penilaian kategori.
Skala penilaian grafik memungkinkan penilai untuk memberikan nilai terhadap kinerja karyawan secara kontinu sebenarnya ada dua tipe skala penilaian grafik yang digunakan saat ini. Kadang-kadang digunakan untuk menilai orang yang sama. Jenis pertama dan yang paling umum digunakan adalah mendata seluruh criteria pekerjaan (kuantitas pekerjaan, kualitas pekerjaan). Jenis kedua lebih bersifat perilaku, dengan perilaku spesidfik didata dan efektifitasnya dari masing-masing perilaku yang dinilai.
Ada beberapa kelemahan dalam skala penilaian grafik. Kadang kala, cirri dan factor yang terpisah dijadikan dalam satu kelompok, dan penilai diberikan hanya satu kotak untuk diperiksa. Kelemahan yang lainnya adalah kata-kata deskriptif yang digunakan dalam skala ini bisa memiliki arti ;yang berbeda-beda untuk masing-masing penilai.
Daftar periksa terdiri dari daftar kalimat atau kata-kata. Penilai memeriksa kalimat-kalimat yang paling mewakili karakter dan kinerja karyawan. Daftar periksa dapat di modifikasi sehingga bobot yang berbeda-beda dapat diterapkan pada kalimat-kalimat atau kata-kata yang ada. Hasilnya dapat di kuantitaskan. Biasanya, bobot tidak diketahui oleh atasan penilai karena biasanya, bobot tidak diketahui oleh atasan penilai karena biasanya ditabulasikan oleh orang lain,seperti anggota unit SDM.
Ada beberapa kesulitan dengan daftar periksa ini: (1) seperti skala penilaian grafik, kata-kata atau kalimat bisa memiliki arti yang berbeda untuk masing-masing penilai, (2) penilai tidak bisa membedakan hasil penilaian jika daftar periksa yang diberi bobot ini digunakan, dan (3) penilai tidak menerapkan bobot ini kepad faktor-faktor yng dinilai. Kesulitan-kesulitan ini membatasi penggunaan informasi ketika penilai mendiskusikan daftar periksa ini dengan karyawannya, menciptakan batasan/hambatan untuk terciptakannya konseling pengembangan yang efektif.[10]
2.6.2 Metode Perbandingan
Metode perbandingan menuntut para manajer untuk secara langsung membandingkan kinerja karyawan mereka satu sama lain. Sebagai contoh,seorang operator pemasukan data akan di bandingkan dengan operator lainnya oleh atasannya. Tehnik perbandingan ini menyangkut antara lain pemberian peringkat, perbandingan berpasangan atau distribusi yang normal.
Pemberian peringkat metode ini terdiri dari daftar seluruh karyawan daftar seluruh karyawan dari yang tertinggi sampai yang terendah dalam kinerjanya. Kelemahan utama metode pemberian peringkat ini adalah ukuran perbedaan antara individu-individu  tidak didefinisikan secara jelas.
Distribusi Normal adalah tehnik mendistribusikan penilaian yang dapat digeneralisasi dengan metode-metode yang lain. Akan tetapi, hal ini juga menuntut perbandingan antara orang-orang dalam suatu kelompok kinerja dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Dengan metode distribusi normal nilai kerja karyawan di distribusikan dalam bentuk kurva.[11]
2.6.3 Metode Naratif
Para manager dan spesalis SDM kadang-kadang di minta untuk memberikan informasi penilaian tertulis. Dokumentasi dan penilaian merupakan inti dari metode kejadian kritis, esai, dan metode tinjauan lapangan.
Tinjauan yang Kritis dalam metode ini manager membuat catatan tertulis untuk informasi penilaian tertulis baik untuk tindakan karyawan yang baik maupun tindakan yang tidak di harapkan dalam kinerja karyawan.
Esai metode penilaian esai menuntut seorang manager untuk menuliskan esai pendekyang mendeskripsikan kinerja setiap karyawannya selama periode waktu karyawan. Penilai biasanya di berikan beberapa judul untuk mengkatagorikan komentar-komentar yang di berikan. Tujuannya adalah untuk memungkinkan penilai lebih fleksibel daripada metode yang lainnya.
Tinjauan Lapangan tinjauan lapangan lebih banyak terkait dengan siapa yang melaksanakan evaluasinya ketika metode ini di gunakan. Pendekatan ini melihat departemen SDM sebagai peninjau, atau peninjau dari luar organisasi.[12]
2.6.4 Metode Tujuan Perilaku
Pendekan perilaku ini cukup menjajikan untuk beberapa situasi dalam usaha untuk mengatasi beberapa persoalan dengan metode lainnya.
Pendekatan Penilaian Perilaku pendekatan perilaku berusaha untuk mengukur perilaku karyawan.
Menyusun Skala Perilaku dimulai dengan mengidentifikasikan dimensi-dimensi pekerjaan yang penting.[13]
2.6.5 Manajemen dengan Tujuan
Manajemen dengan tujuan (management by objectives-MBO) menkhuskan pada tujuan kinerja yang diharapkan dapat dicapai oleh individu dalam jangka waktu tertentu. Tujuan yang ditetapkan oleh masing-masing manajer dikumpulkan untuk menjadi sasaran dan tujuan menyeluruh dari organisasi, meskipun BMO tidak boleh menjadi tujuan tersamar dari para atasan yang ingin mendiktekan tujuan dari si manajer atau karyawan itu sendiri.
Pemikiran Kunci MBO  Ada tiga kunci asumsi yang menggarisbawahi system penilaian MBO ini.
Proses MBO
   
Proses MBO
·         Tinjauan pekerjaan dan kesepakatan si karyawan dan atasannya meninjau deskripsi pekerjaan dan kegiatan kunci dari pekerjaansi karyawan. Dasar pemikirannya adalah untuk sepakat dlam bentuk pekerjaan yang pasti.
·         Pengembangan standar kinerja : standar kinerja yang spesifik harus dibangan secara bersama-sama. Dalam tahapan ini, tingkat kinerja yang memuaskan, yang spesifik dan terukur haruslah ditetapkan.
·         Penetapan tujuan yang terarah: ujuan-tujuan ditetapkan oleh kariyawan harus sejalan dengan, dan diarahkan oleh pihak atasan.
·         Diskusi kinerja yang berkelanjutan: karyawan dan atasan yang menggunakan tujuan-tujuan sebagai dasar dari suatu diskusi yang berkelanjutan mengenai kinerja si karyawan.[14]
2.6.6 Kombinasi dari Metode-metode
Tidak ada metode penilaian yang terbaik. Sebenarnya, penelitian menunjukkan bahwa metode yang digunakan tidak mengubah akurasi atau mengatasi kesalahan dari penilai. System pengukuran kinerja yang menggunakan kombinasi dari metode-metode yang sedang berjalan adalah dimungkinkan, dan bisa cukup beralasan untuk kondisi-kondisi tertentu.
Metode naratif adalah paling baik untuk pengembangan karyawan, karena secara potensial menggenaralisasi lebih banyak informasi umpan balik. Namun demikian, tanpa adanya definisi yang baik dari kriteria dan standar yang digunakan, metode ini apat menjadi tidak stuktur, sehingga menjadi tidak menilai. Dan metode ini lemah jika digunakan untuk tujuan administratif.[15]
2.7  MASALAH PENILAIAN KINERJA
Semua metode penilaian kinerja merupakan subyek dari kesahan, tetapi manajemen dapat menghalau kesalahan dan masalah penilaian kinerja melalui pelatihan. Adapun masalah dalam penilaian kinerja adalah [16]
a.    Leniency (Kemurahan Hati)
Penyelia yang tidak berpengalaman atau yang buruk mungki memutuskan cara yang paling mudah untuk menilai kinerja, yaitu denganmemberikan nilai evaluasi yang tinggi kepada setiap orang. Penyelia barang kali meyakini bahwa para karyawan akan merasa bahwa mereka telah dinilai secara akurat, atau bahkan mereka tahu bahwa mereka dinilai tidak secara akurat. Leniency seperti itu tidak di kehendaki karena mengakibatkan para karyawan akan terlihat lebih kompeten daripada kenyataan yang sesungguhnya. Dengan demikian, keinginan penyelia untuk menimbulkan rasa aman dengan memberikan semua karyawan evaluasi yang tinggi mungkin menyebabkan kaburnya karyawan yang menonjol.
b.    Strictness (Keketatan)
Kadang-kadang penyelia memberika nilai-nilai yang rendah secara konsisten walaupun beberapa karyawan mungkin telah mencapai tingkat kinerja rata-rata atau diatas rata-rata.penyelia sering merasa bersalah dalam menilai secara ketat karena mereka merasa bahwa tidak satupun karyawan hidup diata standar puncak mereka. Stictness dan Leniency dapat dikendalikan atau dihilangkan melalui dua cara yaitu: (1) Dengan mengalokasikan nilai-nilai kedalam distribusi yang dipaksakan (forced distribution) dimana para bawahan dibagi menurut distribusi normal, (2) Dengan mengurangi ambiguitas skala penilaian itu sendiri. Pengurangan ambiguitas dilakukan dengan memperbaiki devinisi dimensi dan menyediakan devinisi berbagai macam poin skala.
c.    Central Tendency
 Masalah tendency terpusat mencuat manakala penyelia mengevaluasi setiap orang secara rata-rata. Persoalan central tendency juga terjadi tatkala penyeliidak dapat secara objektif mengevaliuasi kinerja karyawan disebabkan kurangnya keakraban dngan pekerjaan mereka. Salah satu masalah yang paling besar yang diakibatkan oleh manajer yang menilai dengan cara seperti ini adalah bahwa karyawan-karyawan terbaik akan mulai mencari peluang kerja baru.
d.    Halo Effect
Efek halo muncul ketika seorang penyelia membiarkan satu aspek tertentu dari kinerja karyawan mempengaruhi aspek lainnya yang sedang dievaluasi. Ada pula effect halo negative marah karena seorang karyawan memperlihatkan tidak adanya insistif dalam mempelajari aspek baru dari pekerjaan dalam departemen, seorang penyelia dapat memberikan kepada karyawan tersebut evaluasi yang rendah dalam semua bidang penilaian pekerja. Effect halo juga dapat diredam apabila proses penilaian terbuka terhadap telaah oleh para karyawan yang akan menunjukkan bahwa mereka tidaklah lemah terutama dalam bidang-bidang dimana mereka dinilai buruk.
e.    Bias Penyelia
Kesalahan paling lazim yang ada dalam setiap metode penilaian adalah kesadaran atau ketidaksadaran bias kepenyeliaan terlepas dari dasar atau penyebabnya, bias pribadi menjadi sumber kesalahan dalam penilaian kinerja dan merintangi kapasitas sistem penilaian untuk melayani tujuan organisasional yang untuknya sistem tersebut sebenarnya dirancang. Manajemen perlu membuang bias penyia terhadap individu bawahan atau menangkal bias tersebut selama proses penilaian.
f.     Recency
Manusiawi apabila penyelia lebih mengingat kejadian yang baru saja terjadi dari pada kejadian dimasa lalu dimana kesulitan Recency yang hebat berlangsung, manjaer perlu menyelenggarakan penilaian kinerja bulanan atau kuartalan secara lebih sering.
g.    Pengaruh Organisasional
Pada intinya, penilai cenderung memperhitungkan kegunaan akhir data penilaian pada saat menilai bawahan-bawahan mereka. Apabila mereka meyakini bahwa promosi dan kenaikan gaji tergantung pada nilai kinerja, mereka cenderung memberikan nilai tinggi. Dilain pihak, pada saat penilaian kinerja terutama diselenggarakan untuk pengembangan para karyawan, penyelia atau penilai cenderung mencari kelemahan bawahannya. Fokusnya adalah bagaimana membenahi kelemahan itu.
h.    Standar evaluasi
Masalah standar evaluasi muncul karena perbedaan konseptual dalam makna kata-kata ng dipakai untuk megevaluasi karyawan. Dengan demikian, kata-kata “baik, memadai, memuaskan, dan sangat bagus” dapat mempuanyai arti yang berbeda bagi masing-masing evaluator.

2.8  ASPEK LEGAL DAN EFEKTIFITAS PENILAIAN KINERJA
2.8.1 Penilaian Kinerja dan Hukum
Mungkin terlihat tidak penting memberi penekanan bahwa penilaian kinerja haruslah terkait dengan pekerjaan, karena penilaian sebenarnya adalah untuk mengukur seberapa baik seorang karyawan mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi, dalam sejumlah kasus, sidang pengadilan telah menemukan bahwa penilaian kinerja bersifat deskriminatif dan tidak terkait dengan pekerjaan.
ELemen dari sebuah system penilaian kinerja yang dapat “lolos” dari sidang pengadilan dapat ditetapkan dengan melihat kasus-kasus hokum yang ada saat ini. Berbagai kasus telah memberikan semacam petunjuk. Elemen dari suatu penilaian kinerja yang dapat dipertahankan dari sisi hokum adalah :
a.    Criteria penilaian kinerja berdasarkan criteria pekerjaan
b.    Bebas dari dampak yang berbeda-beda dan memiliki bukti validitas
c.    Kriteria yang formal, yang membatasi campur tangan manajerial
d.    Instrument penilaian yang formal
e.    Pengetahuan individu dan keterlibatannya dalam penilaian karyawan
f.     Meatih para atasan untuk melaksanakan suatu penilaian kinerja
g.    Meninjau proses untuk mencegaah seorang manajer dapat bertindak sendirian untuk menentukan karis seorang karyawan.
h.    Memberikan konseling ungtuk menolong perkembangan yang kurang baik dari seorng karyawan.
2.8.2 Manajemen Kinerja yang Efektif
Sistem manajemen kinerja yang efektif akan seperti:
a.    Konsisten dengan misi dari strategi organisasi
b.    Menguntungkan sebagai alat pengembangan
c.    Bermanfaat sebagai alat administrasi
d.    Legal dan terkait dengan pekerjaan
e.    Secara umum dipandang cukup adil oleh para karyawan
f.     Bermanfaat dalam mendokumentasikan kinerja karyawan

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
·         Penilaian kinerja adalah proses evaluasi seberapa baik karyawan mengerjakan pekerjaan mereka ketika dibandingkan dengan satu set setandar, dan kemudian mengkomunikasikannya kepada karyawan. Dan dapat di juga di sebut sebagai penilaan kariyawan, evaluasi karyawan, tinjauan kinerja, evaluasi kinerja dan penilaian hasil.
·         Tujuan penilaian kinerja ada 2 yaitu tujuan umum penilaian kinerja dan tujuan khusus penilaian kinerja.
·         Manfaat penilaian kinerja adalah Perbaikan Kinerja, Penyelesaian Kopetensi, Keputusan Penempatan, Kebutuhan Penilaian dan Pengembangan, Perencanaan dan Pengembangan Karier, Defisiensi Proses Penempatan Staf, Ketidakakuratan Informasi, Kesalahan Rancangan Pekerjaan, Kesempatan Kerja yang Sama, Tantangan-tantangan Eksternal, Umpan Balik pada SDM
·         Penggunaan penilaian kerja ada dua yaitu penggunaan administratif dan penggunaan untuk pengembangan.
·         Penilaian diadakan oleh manajer ke bawahan, bawahan ke manajer, antar rekan kerja, terhadap diri sendiri, dan dari luar.
·         Metode penilaian kinerja ada 6 yaitu metode penilaian kategori, perbandingan, naratif, tujuan perilaku, manajemen dengan tujuan, dan kombinasi dari metode-metode.
·         Masalah yang muncul dalam penilaian kinerja adalah leniency, strictness, central tendency, halo effect, bias penyelia, recency, pengaruh organisasional, dan standar evaluasi.
·         Aspek legal dan efektifitas penilaian kinerja mencangkup penilaian kinerja dan hokum,dan manajemen kinerja yang efektif.



DAFTAR PUSTAKA
Nawawi, Handari., Manajemen Sumberdaya Manusia untuk Bisnis yang Kompetitif, Yogyakarta: Dgajah Mada University Press, cet.6. 2005.
Sirait, Justine T, Memahami Aspek-aspek Pengelolaan Sumber Daya Manusia dalam Organisasi, Jakarta: PT. Grasindo: 2006
Mathis, Robert & John H, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Salemba Empat, Cet.2, 2002.
Mangkuprawiro, Safri, Manajemen Sumberdaya Manusia Strategik, Bogor: Ghalia Indonesia, eds.1, 2004.
 Mangkuprawiro, Safri, Manajemen Sumberdaya Manusia Strategik, Bogor: Ghalia Indonesia, eds.2. 2011.
Simamora, Henry, Manajemen Sumberdaya Manusia, Yogyakarta:STIE YKPN, eds.3, 2006.






















[1] Nawawi, Handari., Manajemen Sumberdaya Manusia., hal.234.
[2] Ibid., hal.236-237
[3] Justine T., Memahami Aspek-aspek pengelolaan SDM dalam Organisasi., hal.128
[4] Nawawi, Handari., Manajemen Sumberdaya Manusia.,hal.248-249
[5] Ibid., hal 249-251
[6] Sjafri mangkuprawira, manajemen SDM strategic. hal.232-233
[7] Robert & john. Manajemen SDM. Hal.82-84
[8] Ibid, hal 83-84
[9] Ibid., hal 67-92
[10] Ibid., hal 92-94.
[11] Ibid., hal 95
[12] Ibid., hal.96.
[13] Ibid,. 96-98.
[14] Ibid., hal.98-100.
[15] Ibid., hal.100-101.
[16] Henry Simamora., hal 351-356

Tidak ada komentar:

Posting Komentar